Sabtu, 16 Mei 2015

Naskah Drama Monolog

1. Bunga di Atas Awan-Awan
Atawa Cinta Dibalut Hitam
Karya Taufan S. Chandranegara

Dramawan          : Aktor (Lelaki/Perempuan)
Catatan                : Dalam memainkan naskah ini, diperlukan imajinasi tanpa batas, kontekstual dalam term of moralism
                               




SEBUAH RUANG, JENDELA-JENDELA, SEBUAH MEJA, SEBUAH KURSI, SEBUAH JAMBANGAN BERHIAS BUNGA-BUNGA, HANYA ADA SEKUNTUM BUNGA PLASTIC DI DALAMNYA, SEORANG TOKOH SENDIRI DISITU ENTAH SEJAK KAPAN.

Cinta. Cinta. Cinta. Subjektif. Irasional. Objektif. Rasional. Cinta. Cinta.cinta. kuasa. Naïf. Egomania. Cinta. Cinta. Cinta. Oral. Sacral. Mesum. Pornoaksi. Pornografi. Cinta. Cinta. Cinta. Sepotong zaman yang dipotong seperti roti dibagi-bagi lewat sentra media-multi-promo-aksi. Globalisme. Isu. Cinta. Cinta. Cinta. Naziisme. Fasisme. Feodalisme. Kapitalisme. Anarkisme. Chaos. Cinta. Cinta. Cinta.

Ruang. Waktu. Niscaya. Kosong. Isi. Gundah. Cinta. Cinta. Cinta. Serikat. Partai. Komunitas. Persatuan. Koloni. Cinta. Cinta. Cinta. Cinta surga. Neraka. Mati. Hidup. Cinta. Cinta. Cinta….

Slogan. Yel-yel. Fanatisme. Fundamentalisme. Cinta. Cinta. Cinta. Cinta semua. Semua cinta. Dijual murah di swalayan dengan slogan besar pasar modal. Cinta. Cinta. Cinta. Menjadi paradoksal. Mencintai. Dicintai. Dalam format moralis segemntasi kulturasi, menjadi takdir, hak dan kewajiban. Cinta. Cinta. Cinta….

“ Bunga. Hehehe…. Ada keklisean dalam kalimat katakan cinta dengan bunga. Kenapa tak diganti dengan; katakan cinta dengan tai dalam huruf kapital! Untuk apa aku mencintai? Dengan huruf kecil saja; kamu tak mau memahami. Tak mau mendengar suara nuranimu, itu pun kalau masih ada. Apa sih nurani, cinta? Apa sih cinta? Hidup yang bernurani. Yang aku tahu, cinta adalah tai alias tai dalam huruf kapital adalah cinta. Atau perlu aku membuat semacam federasi atawa serikat cinta. Apa mungkin cinta dilembagakan macam itu? Dibuatkan semacam grup seperti kelompok musik rock atau dangdut. Apa iya cinta kemudian menjadi esensial meng-instal isme dalam kurun waktu kemudian menjadi eksistensialis? Akh? Apa iya!?.”

Bener neh ente jatuh cinta dengan pacar ente. Bener neh ente semua bercinta karena cinta. Bohong! Pasti dengan nafsu kuda pacuan menuju maksimalisasi kemenangan, meski sebetulnya ente memacunya dengan steroid yang diminum sehari tiga kali karena mengandung vitamin B1 atawa B2 dan seterusnya plus plus diramu ginseng dari sebuah negeri. Lalu Jas jis Jos! Iya, kan? Malu? Rahasia? Jas Jis Jos kok rahasia.

Cinta. Cinta. Cinta. Penuh rahasia. Misteri. Klasik. Fenomenal. Birahi tanpa cinta adalah hal biasa. Tapi cinta tanpa birahi adalah omong kosong. Kenapa? Tanyalah pada kata hati. Kalau masih ada kata hati. Kalau masih punya kata hati.

“Sulit ya, Bunga. Mau punya cinta kok sembelit hehehe…. Apa? Maksudmu? Ya. Ya. Aku tak paham. Ya, o ya! Yang itu maksudmu. O… aku tahu sekali, meski agak kurang kenal. Kenapa? Suaramu keras sedikit. O…. ya, ya. Maksudmu seperti lagu-lagu protes yang pernah ada, kemudian mati setelah mengenal sistem, gincu! Kalau yang itu aku tak kenal. Karena yang ditulis belum tentu sesuai dengan perasaan cintanya pada….

“Bunga, jangan potong kalimatku. Aku feodal. Aku gampang tersinggung. Aku sedang berpura-pura jadi proletar supaya agak manusiawi sedikit. Piye? Lho! O, iya…. Hahaha Hm…hm… tidak. Baik. Baik sekali…. Tergantung bagaimana kita mencintainya, kan?”

“Bukan!?. O, bukan itu. Jadi darimana aku emmulai yang disebut cinta tadi, my dear Flower Generation? Dari awal sampai akhir atau dari akhir menuju awal!? Salah? Piye toh. Lho…toh? Tadi anda bilang saya harus merasakan cinta sebelum layu berkembang. Sekarang Anda bilang saya kurang peka. Jadi maksudmu dari tadi apa? Cobalah realistik. Iya. Tahu aku. Bahwa hidup harus realistik, kalau tak nyata aku sudah jadi setan. Hahaha….hihihihi…. jadi sekarang ini setannya adalah realitas hihihi….. pantas sulit sekali membedakan media cinta. Jadi harus bagaimana dong nih. Kau sebagai bunga plastik cuma ngoceh tentang cinta, tanpa visual. Gimana aku memilih mediasinya. Cetak offset atau sablon? Beda, kan!? Iya, kan!?.”

“Tentu. Nah. Iya. Itu. Betul. Iya. Sejak tadi. Maksudku itu. Ya. Hahaha…. Aku gembira karena kau akhirnya memahami maksudku. Sejak tadi aku menunggu hal ihwal yang satu itu. Ya. Itu. Cinta. Cinta. Cinta. Yang kumaksud. Ya! Bukan! Yang tadi, nama yang kusebut tadi. Lho! Bukan yang kesebelas. Yang pertama. Iya. Cintaku yang pertama. Apa? Keras sedikit lagi. Nah! Betul! Itu jawabannya. Betul sekali. Hihihi…. Aku sudah bilang, kamu masih saja ngotot kesebelas. Aku tidak punya cinta kesebelas, yang kupunya cinta kesatu dan hanya satu. Paham!?

Diulang lagi. Bukan. Kisah cinta pertama dulu, baru kedua, ketiga dan seterusnya…. Ups! Tobat! Off the Record! Nah! Oke! Setuju! Gimana? (BUNGA MEMBISIKAN SESUATU) hehehe…. Semua kisah cintaku akan dihapus, kalau aku masuk surge. Lho! Sejarah kok pakai tawar menawar. Memangnya sekarang sudah ada paspor untuk masuk surge? Caranya? (BERBISIK) menjual paket sosial…. Menggalang dana publik. O? O?! O! supaya ada akomodasi dan konsumsi? Pihak donasi meski simbolik, tetap fokus dalam ungkapan upaya sloganistik di muka publik.
Saya sudah ba bi bu be bo a i u e o door!!! Omong kosong, tetap dengan tujuan, kan? Jangan pura-pura tidak tahu: popularitas korporasi demi orientasi kapital. Sulit! Memang sulit mencari mahluk sosial yang beramal dalam diam dan terus berdzikir.

Malam telah lama lewat. Senja telah lama lewat, siang telah lama lewat, pagi telah lama lewat. Tuhan menciptakan malam dan siang, matahari dan rembulan. Seperti tertulis di kitab-kitab tentang moral. Sangat membekas di hatiku. Seperti cahaya memancarkan sinarnya menjadi cermin di sukmaku.
“bercerminlah sebelum berangkat sekolah, supaya kau lihat wajahmu yang sebenarnya, cermin bukan impian. Realitas. Seperti apa adanya kamu, anakku”
“Ya Ibu. Ibu? Siapa mau jadi batu? Aku bukan malin kundang yang melegenda itu. Aku Cuma darah dan daging. Entah kenapa. Aku jadi punya cinta, aku jadi bisa merasakan cinta. Ada yang bau busuknya, ada yang wangi baunya, ada yang bau rending, ada yang bau singkong bakar, ada yang bau bangkai, ada yang bau mesiu, ada yang bau konflik, ada yang bau fasis, feudal, rasis, narsisus, lalu menjadi materi jual beli di pasar modal. Semua kisah cinta itu, bisa dibeli di balai lelang, Ibu!”

“Cinta seperti Ibu sudah lama tak kurasakan, sejak aku mengenal cinta dan persenggamaan, aku tak tahu lagi kebenaran cinta yang selalu Ibu kisahkan, saat kumau tidur di pangkuanmu. Nyala api dari lampu minyak menerangi Ibu, kupandangi baying-bayangmu di bilik bamboo, menjelma malaikat penuhkasih member sejuta bintang penerang hatiku, rasanya sejuk malam menyulap pagi, cepat sekali…. Lalu Ibu menyiram dengan air cinta kasih, membersihkan tubuhku, wangi pandan.
Akh…. Cinta itu, sudah lama lewat, sekarang aku mengkhianati cinta Ibu, aku membeli kenikmatan lewat teknologi masturbasi multimedia yang dimassalkan, kenikmatan itu menyergap global, menghisapku masuk dunia lain, realitas maya yang menghalalkan mantra-mantra carangan.
Sulit membedakan akal-budi, moral, karena mantra-mantra carangan dan info-info irasional tentang persetanan menjadi komoditas konsumtif anak-anak hingga kaum dewasa. Bahaya! Celaka mati, celaka duka, Ibu! Aku menerima itu semua sebagai hidangan. Suka atau tidak suka, aku dipaksa menikmatinya: berita-berita visual dengan ikon-ikon simbolik. Ini barangkali yang disebut takdir dalam kitab-kitab tentang moral.”

Malam. Siang. Senja. Pagi. Bulan. Matahari. Awan-awan, senja malam, siang, tengah hari, tengah malam. Sudah lama lewat. Puisi mati, puisi luka, puisi duka, puisi cinta, puisi-puisi. Sudah lama lewat. Prosa, novel, fiksi, roman sejarah, mati-hidup. Sudah lama lewat. Breaking news, news media, news papers-news gossip, news takhayul teknoloi, takhayul news. Sudah lama lewat. Sudah lama lewat?

“Malam, Masihkah kau ingat? Saat sebuah janji tentang mimpi-mimpi diucapkan? Tentang cinta kasih. Akhh…. Luka. Luka. Luka yang menganga di awan-awan, di langit jiwa, ngawang….”

“Ya. Ya. Ya. Kau selalu ingat. Tentang lakon. Sebuah fragmen bunga angan-angan. Tentang nestapa, kepedihan, duka cinta berahi, diakhiri dengan serakah oleh sistem ego? Ingat? Pasti kau selalu ingat. Kau sudah mencatatnya, kan? Haahhhhaha…. Permainan selalu dimulai dengan, luka, diakhiri dengan luka pula. Ya, luka. Hu huuuuuhh luka, luka, luka….”

“Bunga, sekarang aku Tanya kamu. Siapa sebenarnya kamu?”

“O! jadi kamu si cantik itu. Sicantik yang selalu hadir disini? Yang kucintai meski aku tak bisa menggapainya? Itu? Seperti kisah kasih tak sampai, seperti lagu keroncong kenangan dalam stambulan di zaman tonil? Seperti siti nurbaya dibela Kartini? Akh, seperti nyanyian kaum negro, ungkapan syair-syair rasis? Nyanyian nirwana kepedihan lewat teriakan Jimmy Hnedrix. Itukah? Juga bukan. Monyet kamu!”

“Jadi seperti apa dong? Jawablah, jangan bisik-bisik melulu. Bahaya. Bahaya dari bisik-bisik melahirkan budaya gagap dan korup. Seperti garasi atau gudang saja semua masuk semua oke, yang penting eksentriknya, kan!? Fashion, kan!? Aksi! No ekspresi. No inner beauty. Kuno! Kata kaum modernis, kata kaum kontemporeris….
Jangan! Janganlah bisik-bisik. Katakana dengan kata-kata, kuasai kata-kata, jangan main tubuh kalau belum paham kata-kata, basic dulu, baru main tubuh, realism dulu, matang. Itu bedanya melihat cakrawala dengan payung hitam dan tidak.”

“Contoh yang paling tepat, barangkali, umpama: Tidak bermaksud menggurui, saya Cuma partisipan, bagian mengingatkan. Begini: seperti Ibu saya atau Ibu saudara-saudara, menjalani sebuah lakon, proses kelahiran saya atau saudara-saudara. Ada proses dalam makna dramaturginya. Proses yang ejlas dan fokus. Sejak lahir hingga dewasa. Jelas. Fokus.
Tak sekedar eksentrik saja dan sekadar membuat adonan cerita campursari, dari multikulturasi yang diadopsi menjadi mutan eksentrikisme, menjadi konsep blab la and the blab la, kan…. Hassssyim! Kon….kontem….pooohhhrerrr blab la…. Bahaya, kan!? Urutan naik kelasnya harus jelas. Itu, kan, bunga impianku!?”
“Bukan.”
“Ooo! O! O! aku tahu, yang selalu berjanji tentang sebuah komunitas yang bersatu dengan nurani bening? Hihi…. Pedih aku kalau soal itu, janjinya palsu terus, pada malam atau siang atau sore.

Dia bukan mahluk lazim. Dia tega menjual karcis dengan harga mahal, menggalang dana publik untuk kepentingan sebuah kepedihan. Kepedihan kok dijual. Lalu dimana cintanya padaku. Bayangkanlah olehmu. Aku tak punya kata-kata untuk mengatakan tentang cintaku padanya. Karena kata-kata untuk mengatakan cintaku padanya. Karena kelakuannya sebgaia raja tega, mengambil prospek promo dengan label besar iklan belasungkawa, bahkan label atawa logonya lebih besar dari porsi kata-kata bertajuk belasungkawa….huhuhuhu….teganya dikau kekasihku, tega, beriklan dengan azas sebuah sistem….huhuhu….”

“Huhuhu…. Apa? Kau membisikan sesuatu? Di telingaku? Apa? Iya?. Yaa. Aku paham. Paham sekali. Hahaha…. Aku jadi terpingkal-pingkal hua hahaha…. Meskipun aku tak paham maksudmu hihihi…. Lucu sekali. Lucu sekali. Ya. Ya. Hehehe…. Maksudmu? Off the Record. Oke? Berita apa? Berita yang sama tapi beda. Ya. Ya. Aku mendengarkan. Sebuah label lagi? O huhuhuhu….. kekasihku terkasih juga melakukan hal yang sama, promo pornoaksi. Lho, apa bedanya dengan beriklan? Ya, no comment lah. Nurani mereka sudah di del, di rename oleh sistem popularity, gincu, gincu! Gincu! Gincu…?”

“Akh hihihi…. Jangan….jangan kau gelitik aku dengan pola piker kemanusiaan, atawa dengan alas an demi kemanusiaan. Kekasihku, jangan, itu manipulative, menggunting dalam lipatan besar dolar-dolar, sistem-sistem, dari isme-isme kamus saku. Kalau mau amal, ya amal saja. Tak perlu ditulis; A besar, beroral dengan pornoaksi lewat media masa yang multi itu.”

Berdikir. Berdzikirlah. Berdzikirlah dalam diam….

Kalau berdikir tidak lagi dianggap sebagai amal dalam diam. Ya mati sajalah, tak usah jadi mahluk hidup yang wajib bersyukur karena kita diberi hidup oleh sang pencipta….

“Haaahhh…. Ngapain aku jadi sedih begitu. sementara orang yang kucintai sudah tak punya nurani bening. Nuraninya sudah di del, di rename, toh and toh walhasil tetap ditertawai oleh kaum promo pornoaksi itu, bahkan mungkin saja, aku dianggap gila, karena jam begini masih mengajak saudara saudara berdikir dalam cuaca….”

“Karena aku cinta, cinta. Kalau sudah tidak mau mendengar suara nuraninya sendiri, ya sudah. Bukan urusanku. Urusanku adalah meninggalkannya, dan mencari kekasih baru…hehehe…. Maksudku, masih banyak orang yang mau menerima cintaku, meski tak berlabel sekalipun, yang terpenting, dia setia pada janjinya dan mencintaiku dengan tulus, tak sekedar zanzi-zanzi palsu. Akh! Aku kampungan. Jadi melankolian. Ka isme an nyarios sunda na mah hehehe…..”

“Maaf. Maaf. Maaf. Adanya banyak hal perbedaan diantara kitaa, justru membuat aku pergi meninggalkanmu, karena memang, yang aku tahu cintamu sudah jadi plastic, seperti bunga itu. Tak seperti malam, siang, sore yang terus berubah, menepati janji tanpa alasan memberi kehidupan. Malam, siang, sore ada karena waktu, meski berubah ia kembali pada waktunya, selalu menepati janji. Beda. Sangat berbeda. Sedangkan kau, malam, siang dan sore juga pagi tak menentu terus mengubah akalmu dalam mencumbuiku, demi sekantong dolar yang terus mengalir ke rekening-rekening pakaian dan kepalsuan.”
“Hehehe…. Sudah. Moralitas cengeng seperti ini harus kuhentikan. Tak guna. Sangat tak berguna. Kutaruh kau kembali kejambanganmu bunga plastikku. Agar aku tak mengingat lagi hal-hal pahit, getir. Manisnya, meskipun ada, Cuma sedikit, sedikit…. Akh….” (MENARIK NAPAS PANJANG SEKALI)

“Bulan. Purnama penuh. Bulan sepotong. Bulan sabit di senja-senja, ada takbir ilahi, di sana, di ufuk-ufuk, di kosmos jiwa, di atas awan-awan, sejuk sekali…..


Jakarta, April 2005


2. Retorika Lelaki Senja
Oleh : R Giryadi

Sebuah lemari tua berdiri kokoh. Di sekitarnya beberapa interior tua kelihatan tak terawatt. Beberapa ekor tikus bersliweran. Mereka saling berebut barang curian.
Disaat kegaduhan memuncak, tiba-tiba pintu lemari tua terbuka perlahan-lahan. Para tikus melesat menghilang. Pintu lemari tua menutup cepat : Brak! Sepi.
Pintu lemari tua kembali terbuka, perlahan. Dari balik pintu muncul wajah seseorang. Matanya menyelidik. Setelah aman, seseorang itu keluar dari lemari. Seseorang itu menenteng koper atau bungkusan lain.
Tiba-tiba beberapa tikus melintas seperti formula 1. Seseorang meloncat ke tempat yang lebih tinggi. Tikus-tikus berputar-putar. Seseorang bertahan di tempat yang lebih tinggi. Di tempat itu seseorang yang kelihatan rapuh, menyapa siapa saja, diwaktu kapan saja.
           
Selamat apa saja dan selamat kapan saja. (Clingukan melihat situasi sekitarnya)  Baiklah, dalam kesempatan ini, sebelum drama ini berlangsung, ijinkan saya mengutip sebuah kalimat yang cukup terkesan dihati saya. “Kalau saya bunuh diri, sandiwara ini tidak akan pernah ada!” (1) Pasti anda ingat dengan kalimat itu. Nah, kalau diperkenankan kalimat itu akan saya kutip menjadi, “Kalau saya mati, saya tidak bisa kurupsi!” Hiiiii.  Makanya sekalian masih hidup sandiwara kurupsi ini harus saya jalani dengan cara seksama dan dalam tempo (kalau bisa ) selama-lamanya.
           
Tertawa.

(Kepada para tikus) Sudah, pergilah! Tugasmu sudah berakhir! Terlalu verbal!


Setelah tikus berlalu.

Berkurupsi sudah menjadi garis nasib saya. Karena itu dalam melakukannya tidak boleh setengah-setengah. Meski banyak dicaci-maki orang, saya harus jalankan amanat nasib ini dengan sebaik-baiknya.

Ya, memang terpaksa harus saya jalani. Sebagaimana Mas Jumena Martawangsa, saya harus menerima nasib sebagai aktor (dalam tanda petik) untuk menjalankan peran yang meskipun berat, harus menerimanya dengan iklas, dengan lapang dada.
Saudara-saudara, banyak ajaran yang mengajarkan pada kita, bahwa kita harus iklas menerima nasib. Saya memang tidak bisa mengelak untuk berkelakuan seperti ini. Saya tidak ingin munafik dalam hal ini. Ketika saya harus melakukan sesuatu, selagi ada kesempatan semua akan saya lakukan dengan sebaik-baiknya, tanpa menunggu-nunggu dan melewatkan kesempatan itu berlalu begitu saja.
Sampulung pernah berkata, “Menjadi tokoh nasib sama sekali tidak ada enaknya karena selalu dicemooh oleh hati, namun berlangsungnya lakon tak dapat dihalangi. Silahkan menyaksikan dan mencemooh diri saya, sudah tentu setelah sudara-sudara memuja dan menjilat-jilatnya.” (2)
           
Meletakan tas (koper) atau apa saja yang terkesan bungkusan uang. Kemudain membukanya. Di dalamnya ada puluhan topeng dan dasi. Setelah menyeringai, seseorang membetulkan dasi. Memaki topeng.

Sampulung, saya menghargai pendapat panjenengan. Nyatanya menjadi tokoh nasib memang tidak enak, apalagi peran yang harus dijalani tidak baik di mata orang lain. Saya harus menerima nasib seperti ini dengan iklas dan tulus untuk menjadi bajingan sebagai jalan hidup. Ini kenyataan yang tidak bisa dihindarkan, seperti sampeyan tahu, berapa nomer lotre yang sedang dalam genggaman sampeyan. Sementara orang-orang blingsatan, menduga-duga, dan menghargai nasibnya sendiri dalam jumlah sekian rupiah. Hmmmm, kok murah betul nasib itu?

Mas Jumena, saya pingin tahu, apakah yang sampeyan rasakan saat itu? Apa yang terjadi dalam diri Mas, ketika melihat disekeliling sampeyan semua menjadi pecundang, sementara maut telah menjelang? Saya kira jawaban Mas, pasti tidak berbeda jauh dengan yang saya pikirkan, dan juga sampeyan pikirkan.
Kesetiaan hanya omong kosong. Itu hanya akal bulus, agar kita menjadi terlena dan tidak tahu, sebenarnya di sekeliling kita dunia gelap gulita. Dunia para pencoleng memerankan sebagai manusia suci. Dan manusia suci memerankan sebagai pencoleng. Dunia sudah jungkir balik. Dan memang dunia diciptakan jungkir balik, agar manusia mempunyai keputusan yang tegas. Kalau hitam, hitam. Kalau putih ya putih. Itu saja prinsipnya. Sekarang, yang putih bisa berubah jadi kelabu. Begitu juga yang hitam, bisa berubah jadi abu-abu. Semua tidak hitam dan tidak putih. Inilah yang mengacaukan dunia. Tidak jujur!
Maka dalam hal ini saya saya sangat setuju dengan Turah isteri Korep yang sangat benci dengan kemiskinan. Karena tidak iklasnya miskin, ia berkali-kali mencari pesugihan dengan jalan berjudi, meski berkali-kali pula jantungnya dibuat berdebar-debar dan hasilnya kosong mlompong, bahkan harus rela menjual kehormatannya demi memperjuangkan nasibnya. (3)
Ini pilihan yang jujur. Dari pada setengah setengah, apa jadinya? Emangnya hidup hanya dijejali mimpi-mimpi. Hidup diawang-awang. Kalau mau kaya lakukan apa saja. Jangan kemiskinan jadi alasan untuk tidak berbuat sesuatu.
Sampulung, sampeyan memang harus disikapi lain dan lain. Tidak hanya dengan kata-kata iklas dan tulus. Terkadang harus melawan sampai titik darah penghabisan. Tergantung sampeyan datang sebagai apa. Kalau sampeyan datang dalam bentuk kemiskinan, maka tidak heran kalau Turah menggadaikan kehormatannya, dan juga Euis berani mencederai kesetiaan Mas Jumena yang sudah buyuten itu. (4)
Ini sangat realistis. Dari pada menjadi pecundang semacam Korep suaminya yang takut menjadi kaya, sehingga ia berlaku sok jujur dan sok relegius. Sok menerima nasib apa adanya. Namun sebenarnya dihatinya yang sok suci itu tersimpan niat licik, selicik Bandar (5) yang bisa memainkan keluarnya nomer lotre. Jangan munafik, ketika ketidakberdayaan menjerat. Ini untuk memperteguh iman. Agar tidak takut bertindak.
Kenapa Turah tidak takut menjadi lonthe? Karena Korep sendiri tidak takut mencederai rumah tangganya dengan membabi buta. Kenapa Euis rela bermesraan dengan Juki, Marjuki maksud saya, di depan Jumena Martawangsa yang otaknya sudah digergaji ketakutan dan ketidakpercayaan pada orang-orang disekelilingnya? (6)
Saya kira terkadang kejujuran bisa menjadi buah simalakama. Mengapa kita harus mengantarkan nasib pada ketidak pastian. Kalau kita ingin melakukan sesuatu, lakukan. Kenapa harus ditutup-tutupi?
Mas Jumena, saya sangat setuju dengan ketegasan sampeyan, mempertanyakan cinta Eusi. Karena hati manusia selalu berbeda dengan mulutnya. Kadang dihatinya berkata tidak tetapi dimulutnya berkata ya.
Lihat saja sekarang? Siapa yang tidak menjadi pecundang bagi dirinya sendiri. Semua telah menjadi pecundang. Namun mereka hanya lihai menutupi kebusukannya. Siapa sih yang tidak suka duit? Siapa yang mau hidup melarat? Siapa yang mau anak turunnya juga menjadi gembel? Siapa yang kuat ujian menjadi manusia miskin, hidup dikolong-kolong jembatan, memakan makanan dari hasil mengorek-ngorek tong sampah, penghasilan hanya dari mengemis. Kalau kepepet sedikit mencopet atau menodong.?
Sekarang baik buruk itu bukan sesuatu yang penting. Yang terpenting bisa membuat semua itu meyakinkan. Kalau Anda merasa berbuat buruk maka Anda harus meyakinkan bahwa yang sedang Anda kerjakan itu baik. Harus yakin! Dengan demikian semua pasti yakin, meski yang Anda perbuat adalah sesuatu yang buruk.
Tidak boleh malu. Betul ini. Tidak boleh malu. Kalau malu maka misi Anda untuk meyakinkan itu tidak berhasil. Sampeyan pasti ingat, bagaimana dengan tidak malunya Emak, mengatakan pada Abu, anaknya yang korengan dengan sebutan Pangeran yang rupawan. Dan karena Emak meyakinkan, sang anakpun merasa sebagai pangeran. Padahal mereka adalah gembel yang diperbudak mimpi. Pangeran edan! (7) Tetapi, mereka sungguh meyakinkan. Sehingga kemiskinan yang telah dihadapinya selama hidup tak terasa sebagai penderitaan. Huh…hebat betul.
Nah begitu juga, ketika Anda mencopet, menipu, mencuri, merampok, atau berbuat apapun, harus meyakinkan. Sekali lagi harus mayakinkan! Kalau tidak meyakinkan, maka celakalah hidup Anda.
Saya kira, saya sendiri tidak mau hidup dalam kubangan kemiskinan. Makanya dengan sangat meyakinkan, saya harus macak bukan sebagai orang miskin. Saya tidak sudi diperbudak kemiskinan. Kemiskinan?  Yu Turah, kamu benar, bahwa menjadi miskin itu siksaan. Maka jalan terbaik harus membebaskan diri dari siksaan kemiskinan itu. Sampeyan sangat berani menclathu Korep, suami sampeyan yang sok suci itu. Kemiskinan memang tidak bisa ditolelir. Harus dilawan dengan cara apapun. Kalau sampeyan hanya bisa tombok lotre, ya tombok saja. Dari pada hanya pasrah, menunggu perubahan! Lemah betul kelihatannya.
Orang pasrah itu hanya mengandalkan perasaan. Otaknya sendiri tidak main. Karena perasaan yang berperan, bisanya hanya menduga-duga, tanpa mau bicara apa yang menjadi keresahannya. Terus kalau nasib tidak segera berubah, mulutnya nyinyir menyalahkan orang lain dan sok dirinya suci. Ini tidak adil! Kemiskinan hanya mencetak ketidakadilan. Orang nyinyir karena lapar. Karena dirinya tidak bisa berbuat. Karena dirinya telah dibelenggu oleh dirinya sendiri yang sok sudah bagaimana begitu. Untuk memberantas itu, lawan kemiskinan!
Manusia tidak boleh miskin dalam berbagai hal. Ini penyakit. Kalau sudah menjadi penyakit, logikanya harus pergi kedokter. Jadi siapa yang tidak suka kekayaan, lebih baik sekarang juga tinggalkan gedung ini. Pergilah ke dokter. (Kepada penonton) Siapa yang suka miskin, angkat tangan! Berarti semuanya sehat.
           
Tertawa.

Yu Turah, Kang Masmu itu seperti ketika saya masih idialis dulu. Sok idialis. Sok suci semuci. Sok tidak butuh kesejahteraan. Sok malu. Padahal dalam hatinya tidak begitu. Betul? Saya mengalami sendiri. Saya tahu, sebenarnya dalam hatinya ingin sekali hidup itu enak, tidak kedumpyangan mencari utangan. Tetapi ketika masih idialis, hmmm…kayaknya hidup itu harus begitu. Biar sengsara asal hatinya tenteram.
Cuiih! Bagaimana mau tenteram kalau perutnya melilit-lilit. Hatinya gundah gulana karena selalu dicerca oleh istrinya dan dirinya sendiri? Apa tidak tambah ngenes, terus akhirnya mati kaku?
Mbok yang realistis. Yang jujur pada diri sendiri. Kalau bisanya nyopet, mengapa tidak nyopet? Kalau bisanya ngutil (mencuri), kenapa tidak ngutil? Kalau bisanya korupsi, mengapa tidak korupsi? Semua itu tergantung niatnya. Kenapa harus menggantungkan hidup pada mimpi-mimpi? Kenapa harus menggantungkan hidup pada ketidakjujuran pada diri sendiri?
Yu Turah, kamu memang benar-benar hebat. Saya terkesan sekali ketika sampeyan nuturi Korep yang sekali lagi lelaki yang sok suci itu.
Ya begitu itu orang yang terbiasa hidup miskin. Mereka takut kaya. Mereka sudah merasa cukup puas dengan yang diberikan oleh Tuhan, meski sediiiikiiiittt.
“Korep! Kecaplah sedikit kekayaan niscaya kamu akan ketagihan dan kamu  segera akan bisa merasakan bagaimana kekayaan melecut darah sehingga wajahmu berwarna merah." (8)
Kalian tahu, Korep masih bisa membantah dengan berkata tidak jujur. “Saya tidak pernah lapar.” (9)
Huh..!!! Sungguh munafik! Bagaimana mau merasa kenyang kalau setiap hari memang tidak pernah makan, karena bisanya hanya mimpi? Itu mah, kebal. Tuh lihat para petinju itu. Setiap hari dipukuli, semakin hari-semakin tahan pukul. Kelihatannya betul ia kebal pukul. Ototnya kuat. Tulang wajahnya kuat. Tetapi yang tidak pernah ketahuan, otaknya jadi lumer, organ tubuhnya remuk. Baru terasa kalu sudah tua.
Orang yang kebal miskin, kelihatan  sehat-sehat saja, tetapi hatinya hancur. Dan ini lebih berbahaya, karena mereka tidak punya hati. Ingat, “Kelaparan adalah burung gagak yang licik dan hitam.” (10)
Saya kira memang benar. Bahwa nasib tidak akan berpihak pada kebanyakan orang yang merasa dirinya hidup bersama nasib. Padahal nasib adalah satu kekuatan yang tak terkendali bahkan oleh dirinya sendiri. Nasib tidak pernah berpihak pada kebanyakan orang. Nasib tidak mengenal SARA. (11) Karena nasib tidak mengenal SARA, maka kita harus tegas, kepada siapa kita berpihak!
           
Mengenakan dasi dan mengganti topeng.

Kenakan dasi, tampaknya mudah sekali. Ini tidak gampang, kalau dasi sebagai simbul keberhasilan. Tetapi kalau sebagai tampang saja, seribu dasipun begitu mudahnya kita mengenakannya.
Saya sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Jadi saya sangat mudah sekali mengenakan dasi. Berapa kalipun menginginkannya, saya begitu mudahnya menggantikan dasi. Ini tergantung dari dan untuk apa saya mengenakan dasi.
Anda perlu tahu, satu dasi yang saya kenakan, sama dengan satu kemungkinan saya mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Setiap saya mengenakan dasi saya menjadi percaya diri dengan apa yang saya kerjakan dan saya tidak pernah menjadi ragu-ragu. Bahkan orang-orang yang mempercayai saya, juga tidak merasa ragu-ragu, karena kami memang didukung oleh saling percaya dan tahu sama tahu.
Ini sudah berlaku dimana-mana. Saya tidak perlu menutup-nutupi dengan dalih apapun. Saya harus jujur. Karena kejujuran kunci utama kesusksesan. Saya memang jujur. Ketika mereka memberi isyarat untuk diberi uang pelicin, apa beratnya memberinya kalau memang membuat urusan menjadi licin. Jangan berbelit-belit kalau tidak ingin menemui jalan buntu.
Saya sudah mengalami hal itu, ketika masih kuper dulu. Pasti hal ini tidak perlu saya ceritakan lagi, karena untuk urusan ini sudah menjadi jamak. Sudah terjadi dimana-mana dan tidak perlu ditutup-tutupi. Dari presiden, sampai pengurus RT, kalau tidak memakai pelicin urusan pasti jadi seret.
Kalau tidak pecaya silahkan coba. Apa? Ya kalau ada itu pengecualian. Kalau saya bandingkan, seribu banding satu. Satu itu orang yang bernasib malang, karena telah menyia-nyiakan kesempatan. Lo, betul lo ini? Ini kesempatan. Kapan lagi berbuat? Wong sebenarnya sistem itu ada, tetapi kan berlaku di bawah tangan dengan undang-undangnya saling percaya. Kenapa takut melakukan? Meski lima ribu sepuluh ribu kalau kali sekian orang, berapa jumlahnya? Hitunglah sendiri dan pikirkan.
           
Tiba-tiba seekor tikus berlalu sambil menggondol sesuatu. Melompat ke tempat yang lebih tinggi.

Lihat! Tikus yang tidak mengerti apa-apa saja  bisa berbuat untuk dirinya. Dia tidak takut dengan yang dilakukannya, meski ia tahu resikonya. Ia tahu hidup di dunia itu harus survival (kata guru-guru kita). Kalau tidak, kita bisa menjadi makluk minoritas dan terjajah. Apakah ini lebih baik? Cobalah beranikan diri. Saya sudah ribuan kali untuk mencoba hidup idialis. Tetapi ketemunya saya harus realistis. Saya harus mengaca pada kemampuan dan kesempatan yang saya dapat. Sekali lagi kesempatan!
Ndilalah saya selalu mendapat kesempatan. Tikus itupun ketika mengusung barang-barang curiannya (dalam tanda petik) pasti menunggu kesempatan. Ketika ada kesempatan melesatlah dia. Apalagi saya. Sebagai manusia yang memiliki akal budi, dalam bertindak pasti berbeda dengan para tikus itu. Saya harus menggunakan dasi, sepatu, rambut klemis, dan make up seperti ini.
           
Memakai topeng dengan hidung panjang seperti Pinokio.

Lo, kenapa tertawa? Apa ada yang lucu? Memang ini kelihatan naif. Ini salah satu bentuk akal budi untuk mengelabuhi orang agar mereka tidak merasa kecewa. Saya harus meyakinkan. Dengan topeng keyakinan ini, insya’allah, semua akan berjalan dengan lancar.
Masih tertawa? Cara saya ini manjur lo. Kalau lawaran seperti tikus-tikus itu pasti segera mampus. Kalau saya mau, tikus-tikus itu sudah mampus sejak dulu. Apa sih susahnya memberantas tikus? Cukup dengan lem tikus kan? Itu sudah beres. Tikus itu kan tidak bisa membedakan mana makanan dan mana lem. Nah kalau manusia dengan akal budinya pasti tahu, mana makanan enak dan mana yang sudah basi. Mana uang yang enak dienthit (dicuri sedikit),  mana yang uang panas.
Ya dengan topeng ini, dasi ini, saya bisa mendapatkan kesempatan. Dan ternyata semua saya lakukan dengan mudah, ketika saya menggunakan akal budi saya. Kalian pingin tahu rahasianya? Ternyata semua pegawai dalam perusahaan saya bahkan di kantor-kantor intansi terkait dengan perusahaan tempat saya berkerja, semua mengenakan akal budinya dengan memakai dasi dan topeng seperti saya ini.
Begitulah cara kerjanya. Kelihatannya mudah. Kalau tidak meyakinkan, wah berat. Sulit! Seperti saya katakan di depan, kalau lawaran, hasilnya cuman sedikit. Cobalah pakai akal budi, biar lebih canggih dan kelihatan manusiawi.
           
Seekor tikus mengerang-erang. Tubuhnya tergencet perangkap tikus.

Itulah akibatnya kalau ‘bermain’ tidak canggih. Tradisional sekali. Ia tidak bisa mengelabuhi. Ia bekerja atas dasar insting saja. Padahal kalau pakai otak sedikit saja, manusia itu mudah dikelabuhi. Mudah ditipu. Seperti yang anda saksikan ini sebenarnya cara saya untuk mengelabuhi orang-orang. Agar orang-orang tidak pernah mempersoalkan kekayaan saya.
Bayangkan kalau mereka tahu kekayaan saya yang sebenarnya, pasti hidup saya sudah berakhir. Tetapi dengan akal budi saya, saya bisa mengelabuhi para petugas yang akan memeriksa kekayaan saya. Ya, terus terang dengan sedikit uang, agar mereka bisa sedikit merubah jumlah kekayaan saya. Hasilnya sangat efisien. Dengan mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu, hasilnya bisa Anda lihat. Harta benda saya selamat, dan sayapun masih dengan lancar menumpuk kekayaan demi kekayaan.
           
Lemari yang dibaringkan sedemikian rupa, sehingga seseorang bisa berdiri di atasnya.

Saya sudah katakan tadi, gunakan akal budi. Dan inilah salahsatu bentuk akal budi saya.

Tirai di belakang almari membuka sedikit.

Sudah bertahun-tahun saya memikirkan bagaimana menyelamatkan kekayaan saya  dan keluarga saya. Barangkali ini contoh yang tidak gampang dilakukan. Terus terang, saya harus rela harta benda yang saya miliki, saya biarkan menumpuk seperti ini.

Tirai membuka agak lebar, sehingga kelihatan sebagian interornya yang terdiri dari kardus-kardus bekas pembungkus berbagai barang.

Begitu juga, barang-barang itu tidak pernah saya sentuh sedikitpun, demi keawetan harta benda itu. Bahkan, anak dan istri saya tidak pernah boleh menyentuhnya. Apalagi menggunakannya. Mereka tahu, bagaimana sulitnya mendapatkan harta benda itu. Oleh sebab itu, demi menjaga semua harta benda saya itu, saya harus mengelabuhi berbagai pihak. Termasuk keluarga saya. Berapa tikus itu pun  tertipu. Inilah hasil kerja saya yang sebenarnya.

Tirai membuka lebar. Tampak interior mewah dan sebuah foto (gambar) keluarga.

Sampeyan tidak perlu kaget. Yang dipojok sana (Menunjuk kardus bekas perlengkapan dapur. Kemudian mengenakan dasi dan mengganti topeng), semuanya saya peroleh pada lima tahun awal ketika saya mulai bekerja. Kunci untuk mendapatkan itu tidak  mudah. Dengan telaten, saya mengumpulkan serupiah demi serupiah. Saya harus sedikit pandai bermain sandiwara. Melaporkan hal-hal yang tidak sebenarnya. Sering saya melebih-lebihkan laporan, sehingga pimpinan perusahaan saya senang. Pernah juga saya katakan, perusahaan kita dalam krisis, sehingga perusahaan kalangkabut dan melakukan rasionalisasi. Pada saat itu, saya bisa curi kesempatan. Orang-orang yang sok suci saya sikat. Tentu, sebelumnya saya sudah menjilati pantat direktur saya, agar dia percaya dengan apa yang saya omongkan. Berikutnya, orang yang sok suci itu tersingkir, saya memasukan orang-orang yang bisa diajak kerja sama, biar pada lima tahun ke dua, saya bisa bekerja dengan baik.
Yang disebelah sana (Menunjuk kardus bekas pembungkus perangkat elekronik dan gambar sofa. Kemudian mengenakan dasi dan mengganti topeng), adalah kerja saya pada lima tahun kedua. Tentu, dengan sangat mudah sekali saya bisa mengatur apa yang saya maui. Terus terang kami berlomba-lomba, manipulasi, korupsi, dan kolusi. Bagi kami, kapan lagi tidak melakukan KKN, kalau tidak saat ada kesempatan. Kami tidak mau ketinggalan jaman. Rasanya malu tidak ikut korupsi. Bahkan kalau tidak ikut-ikutan korupsi, dikatakan manusia langka. Mulai Satpam, sampai pegawai bawahan saya, semua pandai berbohong. Pada lima tahun kedua itu, saya menyebarkan paham, “Kalau ingin kaya, jangan bekerja dengan hati nurani. Bekerjalah dengan akal budimu. Kalau engkau bekerja berdasar hati nurani, maka kamu akan pulang dengan tangan hampa, sehampa hatimu yang sok bagaimana begitu.” Itulah racun yang selalu saya berikan pada anak buah saya. Hasilnya, meski mereka sedikit malu-malu, dia mau bekerja dengan ‘akalnya’.
Setelah mereka sadar akan kedudukannya, yang Satpam sering tidur diwaktu malam. Meskipun ia sering tahu ada kepala gudang mencuri sesuatu, ia pura-pura tidak tahu, karena besok paginya ia akan mendapat salam tempel dari kepala gudang. Yang sedikit susah itu, tukang sapu. Ia hanya bisa mengkorupsi serbet. Sementara para pekerja wanita, kalau tidak ada pekerjaan atau ada pekerjaan, kesukaannya nonton sinetron di TV yang sengaja saya letakan disitu, sambil menunggu jam kantor berakhir. Sementara saya sendiri, sibuk merubah angka-angka laporan, biar kelihatan realistis, kemudian pada akhir tahun  saya melaporkan keuangan dengan wajah seperti ini!
           
Memakai topeng sedih. Hidungnya bertambah panjang.

Saya laporkan, pada perusahaan bahwa perusahaan kita sedang pailit. Oleh sebab itu deviden tidak bisa dibagikan pada para pemegang saham, apalagi THR. Meski bisa, tidak sebanyak tahun sebelumnya. Tentu semua itu sudah dimaklumi oleh semua pegawai. Mereka tidak bisa memaksa, karena mereka telah mengkorupnya terlebih dahulu. Tentu, drama ini telah diatur sebelumnya. Paling tidak saya sudah menyusun laporan itu terdiri dari beberapa bagian. Pertama untuk auditur dan petugas pajak, kedua untuk pimpinan, ketiga untuk para pegawai lain. Tentu semua itu atas setahu pimpinan. Dia sendiri, tidak ingin perusahaannya kena pajak. Hanya itu.
Nah, yang sebelah sana (Menunjuk gambar rumah mewah dan mobil mewah kemudian mengenakan dasi lagi) adalah kekayaan saya pada lima tahun ke tiga. Pada saat itu, saya sudah menjabat jadi direktur eksekutif. Jabatan yang strategis. Saya bisa melakukan apa saja. Bahkan semakin bisa menumpuk kekayaan dengan mudah, karena sebagian kerja sama-kerja sama yang ditawarkan ke perusahaan saya, bisa saya eksekusi sendiri, dan hasilnya untuk saya sendiri. Dalam tempo kurang dari dua tahun, saya bisa mendirikan perusahaan sendiri. Seperti yang Anda tahu, saya pun menjadi kaya raya. Lihatlah, betapa semua ini merupakan hasil akal budi saya yang cemerlang. Dalam tempo lima belas tahun, mulai dari pegawai rendahan sampai saya punya perusahaan sendiri adalah kerja yang gemilang.

Terdia. Beberapa tikus melintas. Gerakannya sangat lambat.

Namun kegemilangan itu hanya berlalu sekejab saja. Lihat poto yang di sebelah sana itu! Kekayaan yang berharga itu, tak bisa saya selamatkan. Ketika karir saya sedikit demi sedikit naik, saya bekerja siang malam, tanpa mempedulikan keluarga saya. Saya seperti diuber-uber hantu kemiskinan. Sepanjang hari saya harus bekerja keras, memeras akal, agar kehidupan kami tidak terpuruk pada kemelaratan.
Namun, nyatanya, apa yang saya lakukan bertahun-tahun, justru membuat salah paham diantara keluarga saya. Istri saya bilang, saya adalah orang gila. Orang yang tidak punya hati nurani. Sementara anak-anak saya menjadi remaja yang binal. Keluyuran setiap malam dan pulang dengan aroma alkohol di mulutnya sembari mendamprat saya habis-habisan, kemudian ndlosor begitu saja di sofa.
Pada saat itu saya pingin menampar anak saya. Tetapi dasar brandal, ia malah nerocos, memaki saya, telah sdiperbudak oleh setan. Bahkan membiarkan istrinya menjadi ‘lonthe’ yang keluar setiap malam dengan berbagai lelaki yang bisa memberinya rasa puas di ranjang.
Mas Korep, sebenarnya kita hanya putus asa, karena menganggap hidup sederhana lebih kaya dari hidup kaya (harta benda). Memang, semua orang pasti punya angan-angan mewah, memiliki rumah mewah, pakaian mewah, pangan mewah, kendaraan, kesempatan rekreasi dan segala aneka kesenangan badan, seperti umumnya orang. (12)
Saya kira semua itu wajar. Saya telah melakoninya dengan terang-terangan. Hidup di suatu negeri yang korup, hidup di tengah masyarakat yang anti akal waras, lebih baik bersikap masa bodoh atau menjadi pemberontak sama sekali. (13)
Saya hidup bagai batu yang punya mata. Memang benar, saya telah membuat nurani saya menjadi batu. Selama hidup, saya mengabdi pada nafsu yang menyala-nyala. Impian tentang kemewahan tidak pernah luntur. Dan ketika harapan itu terwujud, terus terang kami tergagap menerimanya. Ternyata sampeyan benar, Korep. Hidup kaya itu menakutkan. (14)
Mas Korep. Saya dulu juga orang yang lugu. Saya takut miskin, seperti Yu Turah. Saya takut tidak bisa membahagiakan istri dan anak-anak. Makanya saya berusaha banting tulang dengan cara apapun, asalkan saya dan keluarga saya tidak kelaparan. Saya menghalalkan korupsi, kolusi, dan nepotisme, karena saya takut pada suatu hari nanti kehidupan saya jadi bangkrut. Anak-anak saya yang lahir dari rahim istri saya menjadi gelandangan, dan pada akhirnya mati di bawah kolong jembatan.
Oh, ternyata menjadi kaya menakutkan dan menjadi miskin juga menakutkan. Saya selalu dihantui oleh kedua-duanya. Saya pingin kaya, karena saya tidak ingin jatuh miskin yang teramat sangat. Ketika anak istri saya pergi, kekayaan itu tiba-tiba raib. Seluruh harta benda yang bertahun-tahun saya tumpuk menjadi tidak berguna.
           
Melepas topeng dan dasi. Beberapa tikus melintas dengan mengusung berbagai benda.

Ambilah! Semua tidak berguna. Ambilah, saya tidak membutuhkan lagi. Kalau perlu ambilah jantung hatiku. Semua sudah tidak berguna.
           
Seekor tikus nyrondrol, hendak mengambil harta yang di balik tirai.

Stop! Stoooop! Kalian jangan main-main dengan harta benda saya. Jangankan kamu. Istri saya saja tidak pernah menyentuhnya. Pergilah! (Mengusir dengan melempar sandal) Huh, dikira hidup itu gratisan. Dasar otak tikus. Silahkan ambil barang-barang saya, tetapi harus ada jaminannya. Apakah kalian  bisa menjamin kehidupan saya yang sudah hampir berakhir ini, bisa selamat. Harta benda itu tidak ada artinya bagi keselamatan saya sendiri. Saya pingin mati dengan tenang. Saya pingin mengakiri hidup seperti ketika saya lahir dulu. Apakah ada yang bisa menjamin, bahwa saya bisa selamat tanpa harta benda di sekitar saya? Kalau ada, silahkan ambil seluruh kekayaan saya ini. Bagi saya, keutuhan keluarga saya lebih membahagiakan saya, meski semuanya sudah terlambat.
Sampulung, apa sampeyan tidak dengar suara saya? Mas Korep, Mas Jumena Martawangsa, Yu Turah, Make, apa sampeyan semua sudah bahagia?  Saya sekarang sendirian, menjaga berhala-berhala yang saya sembah bertahun-tahun. Benda-benda itu pada mulanya bisa menyelamatkan dari ketakutan-ketakutan yang menyelimuti benak saya. Nyatanya berhala-berhala itu malah menikam saya dari belakang. Mereka hanya diam seribu bahasa. Mereka sama sekali tidak berharga, ketika tuannya butuh perlindungan.
Ternyata kerja keras saya hanya untuk mengubur saya dengan cara yang sangat menyakitkan. Benda-benda yang saya kumpulkan itu, malah menjadi hantu-hantu yang setiap saat mengancam jiwa saya. Setiap detik, ia selalu membuat sikap saya berubah. Saya tidak bisa tidur. Benda-benda itu, selalu menghantarkan saya pada mimpi-mimpi buruk.

Tikus-tikus bergerak, hendak mencuri benda-benda.

Hai jangan sentuh barang-barang itu!

Tikus-tikus diam.

Sepanjang malam, saya menunggui barang-barang yang saya peroleh sejak saya hanya mempunyai lemari butut, dan kursi-kursi tua peninggalan mertua saya. Sementara orang tua saya hanya meningalkan, rasa takut akan kelaparan.

Tikus-tikus hendak bergerak.

Sudah aku bilang, kalau kalian menyentuh benda-benda itu, maka hidupmu akan berakhir. Kalau mau hidup, cari diluar sana. Basih banyak yang bisa kamu miliki!
Saya sudah sering mengatakan pada anak-anak dan istri saya. Semua harta benda yang kita miliki ini bukan milik kita. Tetapi semua ini untuk masa depan cucu dan cicit-cicit kita. Harta benda itu pondasi sejarah yang kukuh, agar keturunan kita langgeng sepanjang masa.
Mereka tampak masa bodoh dengan yang saya katakan. Meski mulut saya nerocos. Anak-anak saya, pulang menjelang pagi dengan mata merah, rambut acak-acakan, jalannya sempoyongan, dan pasti mobilnya terluka, untuk kebut-kebutan dangan anak-anak brandal yang sok kaya itu.
Sementara istri saya selalu memilih tidur di vila dan membiarkan saya mendekap guling sendiri, sembari membayangkan istri saya yang dipeluk lelaki lain yang sengaja dibawanya dari plasa-plasa atau hasil arisan dengan perempuan-perempuan malang yang merasa dibuang suaminya karena sibuk mengurusi harta bendanya.
           
Tikus-tikus hampir menyentuh kardus-kardus bekas.

Kamu tahu, harta benda itu saya dapatkan dengan mengorbankan segala-galanya. Untuk mendapatkan itu, kamu harus menghadapi saya, meski saya menganggapnya harta itu tidak ternilai lagi selain rasa bahagia.
           
Mengambil benda apa saja dan siap berperang melawan tikus.

Kini saatnya kita beradu nasib kawan. Siapa yang menang dialah penguasa kerajaan ini.

Memburu tikus sambil memukul sekenanya.

Mampuslah engkau! Mampuslah engkau! Mampuslah engkau!

Berhenti. Berlari lagi dan memukul lagi.

Mampuslah engkau! Enyahlah engkau!

Terus berlari sambil memukul sembarangan hingga harta bendanya berantakan.

Habis. Ludes. Saya kira ini lebih adil.

Tiba-tiba sebuah benda atau apa saja jatuh.

Hussssaaa….dimana…kamu..pengecut! Habis. Ludes.

Mengemasi kardus-kardus dan memasukanke dalam lemari. Seseorang juga masuk kedalamnya.

Saya kira ini lebih adil. Inilah cita-cita saya. Lahir tanpa membawa apa-apa, pulangpun tanpa membawa apa-apa bahkan tanpa siapa-siapa, meskipun saya tetap mencintai mereka.

Sepi.

Kang Korep, saya titip nomer togelnya. (Hendak berbaring dalam lemari dan tumpukan kardus-kardus) Kayaknya saya dapat pulung hari ini. Tolong belikan nomer berapa saja. Tampaknya semua nomer akan jadi nomer keberuntungan saya.

Seekor tikus melintas.

Hah itu dia. Nomer tikus. Berapa nomer tikus? Ya, lima belas! Belikan nomer tikus saja! Apa? Uang? Nanti kalau tembus saya ganti. Pokoknya belikan nomer tikus. Saya pusing sekali dengan ulah mereka. Berapapun sampeyan punya uang. Kalau tembus, uang itu akan saya buat mbakar tikus kurang ajar itu. Mengganggu orang tidur saja sepanjang hari.

Tikus melesat.

Bajingan! Apa lagi yang kamu ambil? Oya, Kang Korep, kalau nanti tembus, sampeyan pingin apa? Apa? Tidak punya keinginan? Bodoh sekali. Apa sampeyan tidak pingin bir, paloma, toak, atau nglonthe di stasiun? Siapa tahu sampeyan ketemu Turah dan saya ketemu istri saya. Tidak semuanya? Terus sampeyan pingin apa? Mati? Sampeyan pingin mati?

Diam. Sepi. Seseorang melepas seluruh pakaiannya.

Mas, keinginan sampeyan itu sudah lama saya idamkan. Saya sebenarnya sudah mati, ketika rasa kemaluan saya hilang. Sebenarnya saya bukan manusia lagi. Sekarang, saya hanya sebagai mayat hidup yang bergentayangan menunggu malaikat maut menjemput saya dan menyeretnya ke neraka, tanpa pengadilan di depan Tuhan. Namun sampai sekarang, ketika satu demi satu keluarga meninggalkan saya sendiri, malaikat itu tak kunjung menjemput saya. Sampai kapanpun, Beliau akan saya tunggu.
Mas Korep, sepulang beli togel. Kalau masih punya uang tolong belikan peti mati. Kalau togel itu mbleset, kuburlah peti mati itu, anggaplah saya sudah mati. Buatkan upacara kecil dan berita duka cita. Tancapkan nisan di atasnya,  dan tulis : Telah meninggal dunia, nama saya, lahir tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian, mati tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian. Ingat gunakan kata mati, jangan wafat.

Hendak berbaring di tengah tumpukan kardus.

Ya! Siapa? Apa? Nomer saya tembus? Dapat jutaan rupiah? Mas Korep, kalau begitu tolong beritahu malaikat, tunda dulu kematian saya. Kalau perlu undang mereka, kita berpesta bersama-sama! Kita mabuk-mabukan! Kita nglonthe! Kita kawin lagi, Mas. Merdeka!

Seseorang itu segera memakai celana, dasi, dan topeng, kemudian berjoget sekenanya. Tikus-tikus bergembira ria. Mereka berjoget. Kemenangan kembali merebak. Rumah yang muram itu menyala-nyala merayakan kemenangan. Dua ekor tikus membentangkan poster bertuliskan: “Kalau ingin berantas korupsi, do’akan tokoh kita ini segera mati!”

Surabaya, 2004

 

Keterangan :

1.      Dalam naskah drama, Sumur Tanpa Dasar, karya Arifin C Noor, pada babak awal tokoh Jumena Martawangsa mengucapkan kalimat ini, “Kalau saya bunuh diri, sandiwara ini tidak akan pernah ada.” Saya sangat terkesan dengan kalimat ini. Menurut saya, kalimat ini mencerminkan, bahwa sebuah peristiwa pasti melibatkan ‘tokoh’. Dari tokoh inilah  peristiwa apapun bisa diselesaikan.
2.      Dalam naskah drama Tengul, karya Arifin C Noor, pada babak awal tokoh Sampulung mengucapkan kalimat ini, “Menjadi tokoh nasib sama sekali tidak ada enaknya karena selalu dicemooh oleh hati, namun berlangsungnya lakon tak dapat dihalangi. Silahkan menyaksikan dan mencemooh diri saya, sudah tentu setelah saudara-saudara memuja dan menjilat-jilatnya.” Barangkali para koruptor kita berpikiran demikian.
3.      Pada adegan penarikan lotre dalam naskah Tengul, karya Arifin C Noor, nomer yang  ditomboki (dibeli) Turah istri Korep ternyata meleset lagi. Padahal ia telah menjual seluruh harta bendanya. Karena harta satu-satunya tinggal kehormatan, maka Turah menjualnya seperti menjual jajanan : “Kehormatan! Kehormatan! Kehormatan!”  Oleh karena krisis ekonomi telah melanda Indonesa dengan begitu hebat dan hutang luar negeri terus melambung, maka jalan satu-satunya (secara tidak sadar) bangsa yang besar ini telah menempuh jalan, seperti yang dilakukan Turah.
4.      Euis dan Marjuki, dicurigai Jumena Martawangsa, telah menjalin hubungan afair. Kecurigaan ini memang didasari ketakutan-ketakuatan Jumena sendiri. Tetapi sebenarnya dibalik itu, Euis dan Marjuki bisa dibilang menjalin asmara, meski ia selalu berdusta di depan Jumena. Demi sesuatu yang diyakini, manusia (menurut saya) pasti berdusta, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.
5.      Dalam setiap perjudian, Bandar (Salah satu tokoh di Tengul, karya Arifin C Noor) tidak pernah mengenal filosofi jujur. Ditangannyalah pendulum nasib dikuasai. Oleh sebab itu ia bebas memainkan, selicik apapun. Dan memang bandar judi jarang kalah karena harta benda mereka jelas lebih banyak dari penombok.
6.      Kecurigaan Jumena terhadap Euis (istri mudanya) dengan Juki (adik angkat Jumena) memang berdasar  ketidak percayaan akan cinta Euis. Pada babak awal Jumena  bertanya pada Euis : “Apa yang diharapkan perempuan sebenarnya?” Euis menjawab, “Seorang suami yang mencintainya.”  Dan dengan tangkas Jumena menjawab pula, “Saya sangsi…”
7.      Dalam naskah Kapai-Kapai, karya Arifin C Noor, Emak menyamakan tokoh Abu (anak Emak) yang pegawai rendahan itu, sebagai Pangeran yang rupawan dan hidup bahagia. Kemiskinan memang selalu menggiring orang pada mimpi-mimpi. Karena mimpi-mimpi inilah terkadang manusia berbuat nekat. Termasuk korupsi. Manusia berkorupsi bisa jadi akibat dari rasa takut akan kemiskinan dan keinginan realisasi mimpi-mimpinya akan kemewahan.
8.      Kerna jengah menghadapi Korep yang merasa sudah bahagia meski hidup sederhana (miskin), Turah (istri Korep) merasa perlu meyakinkan, bahwa kekayaan akan merubah segalanya.
9.      Namun sayang, ajakan istrinya itu, tak pernah membuat surut Korep untuk tetap memilih hidup sederhana dan Korep menyatakan dalam kemiskinannya itu ia merasa tidak pernah lapar.
10.  Baca sajak WS. Rendra, Kelaparan. Saya menulisnya diluar kepala.
11.  Perihal nasib, Bandar (salah satu tokoh dalam naskah Tengul, karya Arifin C Noor) percaya, bahwa nasib tidak pernah berpihak pada kebanyakan orang. Tetapi pada segelintir orang, karena nasib adalah kekuatan yang tak terkendalikan dia tak pernah memihak atas golongan, suku, ras, bahkan agama. Nasib tidak ada hubungannya dengan kesalehan seseorang. Maka Bandar berujar, “Inilah kekeliruan terbesar. Nasib tidak pernah tahu, apa itu agama.”
12.  Kesederhanaan Korep sebenarnya didasari oleh rasa putus asa. Karena pada dasarnya secara manusiawi manusia punya angan-angan tentang kekayaan harta benda dan hidup tenang.
13, 14.  Periksa dialog Korep dengan tokoh Si Tuli.



Biodata


Rakhmat Giryadi, lahir di Blitar, 10 April 1969. Lulusan Sarjana Pendidikan Seni Rupa IKIP Surabaya 1994 ini, selain bergiat di teater ia juga menulis cerpen, esai, dan puisi. Karyanya selain dibacakan diberbagai kesempatan, juga dipublikasikan di media massa seperti, Horison, Surabaya Post, Kompas (Jawa Timur), Jawa Pos, Surya, Radar Surabaya, Suara Merdeka, Suara Karya, Suara Indonesia, Sinar Harapan, Aksara, Majalah Budaya Gong, Panjebar Semangat. Sekarang bekerja sebagai wartawan Jatim Mandiri.

Organesasi :
  1. Persatuan Wartawan Indonesia-Jawa Timur
  2. Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur (2008-2013)

Buku Kumpulan Cerpen:
  1. Mimpi Jakarta (2006)

Puisinya termuat dalam :
1.  Luka Waktu (1998)
2.  Duka Atjeh, Duka Kita Bersama (2004)
3.  Malam Sastra Surabaya (Malsasa 2005)
4.  Malam Sastra Surabaya (Malsasa 2007)

Buku yang pernah dieditori:
  1. Pelayaran Bunga (Antologi Sastra Festival Cak Durasim 2007)

Scenario yang pernah ditulis :
  1. Rumahku Rumahmu (2006)

Nasakah drama yang pernah disutradarai bersama Teater Institut Unesa :
  1. Orang-orang Bawah Tanah (R Giryadi 1994)
  2. Monolog Provokator (R Giryadi 1996)
  3. Monolog Aeng (Putu Wijaya 1996-2001)
  4. Jalan Pencuri (Tengsoe Tjahjono 1997)
  5. Pohon dalam Piring Tanah (Tengsoe Tjahjono 1999)
  6. Orang Asing (Ruper Brooke 1994-1996)
  7. Ode Buat Ibu (Urip Joko Lelono 2000)
  8. Setan dalam Bahaya (El Hakim 1998-2003)
  9. Rashomon (Rheunosuke Akutagawa 2000-2001)
  10. Monolog Peperangan ( R Giryadi 2000)
  11. Monolog Biografi Kursi Tua (R Giryadi 2001)
  12. Monolog Teriakan-Teriakan Sunyi (R Giryadi 2004)
  13. Monolog Retorika Lelaki Senja (R Giryadi 2005)
  14. Larung Pawon (Kolaborasi 2007)
  15. Nyai Ontosoroh (R Giryadi 2007)
  16. Monumen-Monumen ( Jujuk Prabowo/R Giryadi 2007)

Naskah drama yang pernah ditulis :
1.          Orang-orang Bawah Tanah (1994)
2.          Orde Mimpi (1994)
3.          Monumen (1997)
4.          Serpihan Kaca Pecah (1997)
5.          Istana Maya (1998)
6.          Terompet Senjakala (2003)
7.          Testimoni (2004)
8.          Hikayat Perlawanan Sanikem : Nyai Ontosoroh (2006)
9.          Sebelum Dewa Dewi Tidur (2008)

Naskah monolog yang pernah ditulis :
1.          Monolog Peperangan (2000)
2.          Biografi Kursi Tua (2001)
3.          Bingkai Kanvas Kosong (2003)
4.          Monolog Teriakan-Teriakan Sunyi (2004)
5.          Retorika Lelaki Senja (2005)

Alamat :
R Giryadi
Jl. Merpati I/7 Wismasari, Juanda
Sidoarjo

e-mail : zahiria@yahoo.com
tlp rumah : (031) 8667146
hp:081330657845




 






 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar