1. Bunga di Atas Awan-Awan
Atawa Cinta Dibalut Hitam
Karya
Taufan S. Chandranegara
Dramawan : Aktor (Lelaki/Perempuan)
Catatan : Dalam memainkan naskah ini, diperlukan imajinasi
tanpa batas, kontekstual dalam term of moralism
SEBUAH
RUANG, JENDELA-JENDELA, SEBUAH MEJA, SEBUAH KURSI, SEBUAH JAMBANGAN BERHIAS
BUNGA-BUNGA, HANYA ADA SEKUNTUM BUNGA PLASTIC DI DALAMNYA, SEORANG TOKOH
SENDIRI DISITU ENTAH SEJAK KAPAN.
Cinta. Cinta. Cinta. Subjektif. Irasional. Objektif.
Rasional. Cinta. Cinta.cinta. kuasa. Naïf. Egomania. Cinta. Cinta. Cinta. Oral.
Sacral. Mesum. Pornoaksi. Pornografi. Cinta. Cinta. Cinta. Sepotong zaman yang
dipotong seperti roti dibagi-bagi lewat sentra media-multi-promo-aksi.
Globalisme. Isu. Cinta. Cinta. Cinta. Naziisme. Fasisme. Feodalisme.
Kapitalisme. Anarkisme. Chaos. Cinta.
Cinta. Cinta.
Ruang. Waktu. Niscaya. Kosong. Isi. Gundah. Cinta. Cinta.
Cinta. Serikat. Partai. Komunitas. Persatuan. Koloni. Cinta. Cinta. Cinta.
Cinta surga. Neraka. Mati. Hidup. Cinta. Cinta. Cinta….
Slogan. Yel-yel. Fanatisme. Fundamentalisme. Cinta. Cinta.
Cinta. Cinta semua. Semua cinta. Dijual murah di swalayan dengan slogan besar
pasar modal. Cinta. Cinta. Cinta. Menjadi paradoksal. Mencintai. Dicintai.
Dalam format moralis segemntasi kulturasi, menjadi takdir, hak dan kewajiban.
Cinta. Cinta. Cinta….
“ Bunga. Hehehe…. Ada keklisean dalam kalimat katakan cinta
dengan bunga. Kenapa tak diganti dengan; katakan cinta dengan tai dalam huruf
kapital! Untuk apa aku mencintai? Dengan huruf kecil saja; kamu tak mau
memahami. Tak mau mendengar suara nuranimu, itu pun kalau masih ada. Apa sih
nurani, cinta? Apa sih cinta? Hidup yang bernurani. Yang aku tahu, cinta adalah
tai alias tai dalam huruf kapital adalah cinta. Atau perlu aku membuat semacam
federasi atawa serikat cinta. Apa mungkin cinta dilembagakan macam itu?
Dibuatkan semacam grup seperti kelompok musik rock atau dangdut. Apa iya cinta
kemudian menjadi esensial meng-instal
isme dalam kurun waktu kemudian menjadi eksistensialis? Akh? Apa iya!?.”
Bener neh ente jatuh cinta dengan pacar ente. Bener neh ente
semua bercinta karena cinta. Bohong! Pasti dengan nafsu kuda pacuan menuju
maksimalisasi kemenangan, meski sebetulnya ente memacunya dengan steroid yang
diminum sehari tiga kali karena mengandung vitamin B1 atawa B2 dan seterusnya
plus plus diramu ginseng dari sebuah negeri. Lalu Jas jis Jos! Iya, kan? Malu?
Rahasia? Jas Jis Jos kok rahasia.
Cinta. Cinta. Cinta. Penuh rahasia. Misteri. Klasik.
Fenomenal. Birahi tanpa cinta adalah hal biasa. Tapi cinta tanpa birahi adalah
omong kosong. Kenapa? Tanyalah pada kata hati. Kalau masih ada kata hati. Kalau
masih punya kata hati.
“Sulit ya, Bunga. Mau punya cinta kok sembelit hehehe…. Apa?
Maksudmu? Ya. Ya. Aku tak paham. Ya, o ya! Yang itu maksudmu. O… aku tahu
sekali, meski agak kurang kenal. Kenapa? Suaramu keras sedikit. O…. ya, ya.
Maksudmu seperti lagu-lagu protes yang pernah ada, kemudian mati setelah
mengenal sistem, gincu! Kalau yang itu aku tak kenal. Karena yang ditulis belum
tentu sesuai dengan perasaan cintanya pada….
“Bunga, jangan potong kalimatku. Aku feodal. Aku gampang
tersinggung. Aku sedang berpura-pura jadi proletar supaya agak manusiawi
sedikit. Piye? Lho! O, iya…. Hahaha Hm…hm… tidak. Baik. Baik sekali….
Tergantung bagaimana kita mencintainya, kan?”
“Bukan!?. O, bukan itu. Jadi darimana aku emmulai yang disebut
cinta tadi, my dear Flower Generation?
Dari awal sampai akhir atau dari akhir menuju awal!? Salah? Piye toh. Lho…toh?
Tadi anda bilang saya harus merasakan cinta sebelum layu berkembang. Sekarang
Anda bilang saya kurang peka. Jadi maksudmu dari tadi apa? Cobalah realistik.
Iya. Tahu aku. Bahwa hidup harus realistik, kalau tak nyata aku sudah jadi
setan. Hahaha….hihihihi…. jadi sekarang ini setannya adalah realitas hihihi…..
pantas sulit sekali membedakan media cinta. Jadi harus bagaimana dong nih. Kau
sebagai bunga plastik cuma ngoceh tentang cinta, tanpa visual. Gimana aku
memilih mediasinya. Cetak offset atau sablon? Beda, kan!? Iya, kan!?.”
“Tentu. Nah. Iya. Itu. Betul. Iya. Sejak tadi. Maksudku itu.
Ya. Hahaha…. Aku gembira karena kau akhirnya memahami maksudku. Sejak tadi aku
menunggu hal ihwal yang satu itu. Ya. Itu. Cinta. Cinta. Cinta. Yang kumaksud.
Ya! Bukan! Yang tadi, nama yang kusebut tadi. Lho! Bukan yang kesebelas. Yang
pertama. Iya. Cintaku yang pertama. Apa? Keras sedikit lagi. Nah! Betul! Itu
jawabannya. Betul sekali. Hihihi…. Aku sudah bilang, kamu masih saja ngotot
kesebelas. Aku tidak punya cinta kesebelas, yang kupunya cinta kesatu dan hanya
satu. Paham!?
Diulang lagi. Bukan. Kisah cinta pertama dulu, baru kedua,
ketiga dan seterusnya…. Ups! Tobat! Off
the Record! Nah! Oke! Setuju! Gimana? (BUNGA MEMBISIKAN SESUATU) hehehe….
Semua kisah cintaku akan dihapus, kalau aku masuk surge. Lho! Sejarah kok pakai
tawar menawar. Memangnya sekarang sudah ada paspor untuk masuk surge? Caranya?
(BERBISIK) menjual paket sosial…. Menggalang dana publik. O? O?! O! supaya ada
akomodasi dan konsumsi? Pihak donasi meski simbolik, tetap fokus dalam ungkapan
upaya sloganistik di muka publik.
Saya sudah ba bi bu be bo a i u e o door!!! Omong kosong,
tetap dengan tujuan, kan? Jangan pura-pura tidak tahu: popularitas korporasi
demi orientasi kapital. Sulit! Memang sulit mencari mahluk sosial yang beramal
dalam diam dan terus berdzikir.
Malam telah lama lewat. Senja telah lama lewat, siang telah
lama lewat, pagi telah lama lewat. Tuhan menciptakan malam dan siang, matahari
dan rembulan. Seperti tertulis di kitab-kitab tentang moral. Sangat membekas di
hatiku. Seperti cahaya memancarkan sinarnya menjadi cermin di sukmaku.
“bercerminlah sebelum berangkat sekolah, supaya kau lihat
wajahmu yang sebenarnya, cermin bukan impian. Realitas. Seperti apa adanya
kamu, anakku”
“Ya Ibu. Ibu? Siapa mau jadi batu? Aku bukan malin kundang
yang melegenda itu. Aku Cuma darah dan daging. Entah kenapa. Aku jadi punya
cinta, aku jadi bisa merasakan cinta. Ada yang bau busuknya, ada yang wangi
baunya, ada yang bau rending, ada yang bau singkong bakar, ada yang bau
bangkai, ada yang bau mesiu, ada yang bau konflik, ada yang bau fasis, feudal,
rasis, narsisus, lalu menjadi materi jual beli di pasar modal. Semua kisah
cinta itu, bisa dibeli di balai lelang, Ibu!”
“Cinta seperti Ibu sudah lama tak kurasakan, sejak aku
mengenal cinta dan persenggamaan, aku tak tahu lagi kebenaran cinta yang selalu
Ibu kisahkan, saat kumau tidur di pangkuanmu. Nyala api dari lampu minyak
menerangi Ibu, kupandangi baying-bayangmu di bilik bamboo, menjelma malaikat
penuhkasih member sejuta bintang penerang hatiku, rasanya sejuk malam menyulap
pagi, cepat sekali…. Lalu Ibu menyiram dengan air cinta kasih, membersihkan
tubuhku, wangi pandan.
Akh…. Cinta itu, sudah lama lewat, sekarang aku mengkhianati
cinta Ibu, aku membeli kenikmatan lewat teknologi masturbasi multimedia yang
dimassalkan, kenikmatan itu menyergap global, menghisapku masuk dunia lain,
realitas maya yang menghalalkan mantra-mantra carangan.
Sulit membedakan akal-budi, moral, karena mantra-mantra
carangan dan info-info irasional tentang persetanan menjadi komoditas konsumtif
anak-anak hingga kaum dewasa. Bahaya! Celaka mati, celaka duka, Ibu! Aku
menerima itu semua sebagai hidangan. Suka atau tidak suka, aku dipaksa
menikmatinya: berita-berita visual dengan ikon-ikon simbolik. Ini barangkali
yang disebut takdir dalam kitab-kitab tentang moral.”
Malam. Siang. Senja. Pagi. Bulan. Matahari. Awan-awan, senja
malam, siang, tengah hari, tengah malam. Sudah lama lewat. Puisi mati, puisi
luka, puisi duka, puisi cinta, puisi-puisi. Sudah lama lewat. Prosa, novel,
fiksi, roman sejarah, mati-hidup. Sudah lama lewat. Breaking news, news media, news papers-news gossip, news takhayul
teknoloi, takhayul news. Sudah lama lewat. Sudah lama lewat?
“Malam, Masihkah kau ingat? Saat sebuah janji tentang
mimpi-mimpi diucapkan? Tentang cinta kasih. Akhh…. Luka. Luka. Luka yang
menganga di awan-awan, di langit jiwa, ngawang….”
“Ya. Ya. Ya. Kau selalu ingat. Tentang lakon. Sebuah fragmen
bunga angan-angan. Tentang nestapa, kepedihan, duka cinta berahi, diakhiri
dengan serakah oleh sistem ego? Ingat? Pasti kau selalu ingat. Kau sudah
mencatatnya, kan? Haahhhhaha…. Permainan selalu dimulai dengan, luka, diakhiri
dengan luka pula. Ya, luka. Hu huuuuuhh luka, luka, luka….”
“Bunga, sekarang aku Tanya kamu. Siapa sebenarnya kamu?”
“O! jadi kamu si cantik itu. Sicantik yang selalu hadir
disini? Yang kucintai meski aku tak bisa menggapainya? Itu? Seperti kisah kasih
tak sampai, seperti lagu keroncong kenangan dalam stambulan di zaman tonil?
Seperti siti nurbaya dibela Kartini? Akh, seperti nyanyian kaum negro, ungkapan
syair-syair rasis? Nyanyian nirwana kepedihan lewat teriakan Jimmy Hnedrix.
Itukah? Juga bukan. Monyet kamu!”
“Jadi seperti apa dong? Jawablah, jangan bisik-bisik melulu.
Bahaya. Bahaya dari bisik-bisik melahirkan budaya gagap dan korup. Seperti
garasi atau gudang saja semua masuk semua oke, yang penting eksentriknya, kan!?
Fashion, kan!? Aksi! No ekspresi. No inner beauty. Kuno! Kata kaum modernis,
kata kaum kontemporeris….
Jangan! Janganlah bisik-bisik. Katakana dengan kata-kata,
kuasai kata-kata, jangan main tubuh kalau belum paham kata-kata, basic dulu,
baru main tubuh, realism dulu, matang. Itu bedanya melihat cakrawala dengan
payung hitam dan tidak.”
“Contoh yang paling tepat, barangkali, umpama: Tidak
bermaksud menggurui, saya Cuma partisipan, bagian mengingatkan. Begini: seperti
Ibu saya atau Ibu saudara-saudara, menjalani sebuah lakon, proses kelahiran
saya atau saudara-saudara. Ada proses dalam makna dramaturginya. Proses yang
ejlas dan fokus. Sejak lahir hingga dewasa. Jelas. Fokus.
Tak sekedar eksentrik saja dan sekadar membuat adonan cerita
campursari, dari multikulturasi yang diadopsi menjadi mutan eksentrikisme,
menjadi konsep blab la and the blab
la, kan…. Hassssyim! Kon….kontem….pooohhhrerrr blab la…. Bahaya, kan!? Urutan
naik kelasnya harus jelas. Itu, kan, bunga impianku!?”
“Bukan.”
“Ooo! O! O! aku tahu, yang selalu berjanji tentang sebuah
komunitas yang bersatu dengan nurani bening? Hihi…. Pedih aku kalau soal itu,
janjinya palsu terus, pada malam atau siang atau sore.
Dia bukan mahluk lazim. Dia tega menjual karcis dengan harga
mahal, menggalang dana publik untuk kepentingan sebuah kepedihan. Kepedihan kok
dijual. Lalu dimana cintanya padaku. Bayangkanlah olehmu. Aku tak punya
kata-kata untuk mengatakan tentang cintaku padanya. Karena kata-kata untuk
mengatakan cintaku padanya. Karena kelakuannya sebgaia raja tega, mengambil
prospek promo dengan label besar iklan belasungkawa, bahkan label atawa logonya
lebih besar dari porsi kata-kata bertajuk belasungkawa….huhuhuhu….teganya dikau
kekasihku, tega, beriklan dengan azas sebuah sistem….huhuhu….”
“Huhuhu…. Apa? Kau membisikan sesuatu? Di telingaku? Apa?
Iya?. Yaa. Aku paham. Paham sekali. Hahaha…. Aku jadi terpingkal-pingkal hua
hahaha…. Meskipun aku tak paham maksudmu hihihi…. Lucu sekali. Lucu sekali. Ya.
Ya. Hehehe…. Maksudmu? Off the Record.
Oke? Berita apa? Berita yang sama tapi beda. Ya. Ya. Aku mendengarkan. Sebuah
label lagi? O huhuhuhu….. kekasihku terkasih juga melakukan hal yang sama,
promo pornoaksi. Lho, apa bedanya dengan beriklan? Ya, no comment lah. Nurani mereka sudah di del, di rename oleh sistem
popularity, gincu, gincu! Gincu!
Gincu…?”
“Akh hihihi…. Jangan….jangan kau gelitik aku dengan pola
piker kemanusiaan, atawa dengan alas an demi kemanusiaan. Kekasihku, jangan,
itu manipulative, menggunting dalam lipatan besar dolar-dolar, sistem-sistem,
dari isme-isme kamus saku. Kalau mau amal, ya amal saja. Tak perlu ditulis; A
besar, beroral dengan pornoaksi lewat media masa yang multi itu.”
Berdikir. Berdzikirlah. Berdzikirlah dalam diam….
Kalau berdikir tidak lagi dianggap sebagai amal dalam diam.
Ya mati sajalah, tak usah jadi mahluk hidup yang wajib bersyukur karena kita
diberi hidup oleh sang pencipta….
“Haaahhh…. Ngapain aku jadi sedih begitu. sementara orang
yang kucintai sudah tak punya nurani bening. Nuraninya sudah di del, di rename,
toh and toh walhasil tetap ditertawai oleh kaum promo pornoaksi itu, bahkan
mungkin saja, aku dianggap gila, karena jam begini masih mengajak saudara
saudara berdikir dalam cuaca….”
“Karena aku cinta, cinta. Kalau sudah tidak mau mendengar
suara nuraninya sendiri, ya sudah. Bukan urusanku. Urusanku adalah
meninggalkannya, dan mencari kekasih baru…hehehe…. Maksudku, masih banyak orang
yang mau menerima cintaku, meski tak berlabel sekalipun, yang terpenting, dia
setia pada janjinya dan mencintaiku dengan tulus, tak sekedar zanzi-zanzi
palsu. Akh! Aku kampungan. Jadi melankolian. Ka isme an nyarios sunda na mah hehehe…..”
“Maaf. Maaf. Maaf. Adanya banyak hal perbedaan diantara
kitaa, justru membuat aku pergi meninggalkanmu, karena memang, yang aku tahu
cintamu sudah jadi plastic, seperti bunga itu. Tak seperti malam, siang, sore
yang terus berubah, menepati janji tanpa alasan memberi kehidupan. Malam,
siang, sore ada karena waktu, meski berubah ia kembali pada waktunya, selalu
menepati janji. Beda. Sangat berbeda. Sedangkan kau, malam, siang dan sore juga
pagi tak menentu terus mengubah akalmu dalam mencumbuiku, demi sekantong dolar
yang terus mengalir ke rekening-rekening pakaian dan kepalsuan.”
“Hehehe…. Sudah. Moralitas cengeng seperti ini harus
kuhentikan. Tak guna. Sangat tak berguna. Kutaruh kau kembali kejambanganmu
bunga plastikku. Agar aku tak mengingat lagi hal-hal pahit, getir. Manisnya,
meskipun ada, Cuma sedikit, sedikit…. Akh….” (MENARIK NAPAS PANJANG SEKALI)
“Bulan. Purnama penuh. Bulan sepotong. Bulan sabit di
senja-senja, ada takbir ilahi, di sana, di ufuk-ufuk, di kosmos jiwa, di atas
awan-awan, sejuk sekali…..
Jakarta, April 2005
2. Retorika Lelaki Senja
Oleh : R Giryadi
Sebuah lemari tua berdiri kokoh. Di sekitarnya
beberapa interior tua kelihatan tak terawatt. Beberapa ekor tikus bersliweran.
Mereka saling berebut barang curian.
Disaat kegaduhan memuncak, tiba-tiba pintu lemari tua
terbuka perlahan-lahan. Para tikus melesat menghilang. Pintu lemari tua menutup
cepat : Brak! Sepi.
Pintu lemari tua kembali terbuka, perlahan. Dari balik
pintu muncul wajah seseorang. Matanya menyelidik. Setelah aman, seseorang itu
keluar dari lemari. Seseorang itu menenteng koper atau bungkusan lain.
Tiba-tiba beberapa tikus melintas seperti formula 1.
Seseorang meloncat ke tempat yang lebih tinggi. Tikus-tikus berputar-putar.
Seseorang bertahan di tempat yang lebih tinggi. Di tempat itu seseorang yang
kelihatan rapuh, menyapa siapa saja, diwaktu kapan saja.
Selamat
apa saja dan selamat kapan saja. (Clingukan melihat situasi sekitarnya) Baiklah, dalam kesempatan ini, sebelum
drama ini berlangsung, ijinkan saya mengutip sebuah kalimat yang cukup terkesan
dihati saya. “Kalau saya bunuh diri, sandiwara ini tidak akan pernah ada!” (1)
Pasti anda ingat dengan kalimat itu. Nah, kalau diperkenankan kalimat itu akan
saya kutip menjadi, “Kalau saya mati, saya tidak bisa kurupsi!” Hiiiii. Makanya sekalian masih hidup sandiwara
kurupsi ini harus saya jalani dengan cara seksama dan dalam tempo (kalau bisa )
selama-lamanya.
Tertawa.
(Kepada para
tikus) Sudah, pergilah!
Tugasmu sudah berakhir! Terlalu verbal!
Setelah
tikus berlalu.
Berkurupsi sudah
menjadi garis nasib saya. Karena itu dalam melakukannya tidak boleh
setengah-setengah. Meski banyak dicaci-maki orang, saya harus jalankan amanat
nasib ini dengan sebaik-baiknya.
Ya, memang terpaksa harus
saya jalani. Sebagaimana Mas Jumena Martawangsa, saya harus menerima nasib
sebagai aktor (dalam tanda petik) untuk menjalankan peran yang meskipun berat,
harus menerimanya dengan iklas, dengan lapang dada.
Saudara-saudara,
banyak ajaran yang mengajarkan pada kita, bahwa kita harus iklas menerima
nasib. Saya memang tidak bisa mengelak untuk berkelakuan seperti ini. Saya
tidak ingin munafik dalam hal ini. Ketika saya harus melakukan sesuatu, selagi
ada kesempatan semua akan saya lakukan dengan sebaik-baiknya, tanpa menunggu-nunggu
dan melewatkan kesempatan itu berlalu begitu saja.
Sampulung
pernah berkata, “Menjadi tokoh nasib sama sekali tidak ada enaknya karena
selalu dicemooh oleh hati, namun berlangsungnya lakon tak dapat dihalangi.
Silahkan menyaksikan dan mencemooh diri saya, sudah tentu setelah sudara-sudara
memuja dan menjilat-jilatnya.” (2)
Meletakan
tas (koper) atau apa saja yang terkesan bungkusan uang. Kemudain membukanya. Di
dalamnya ada puluhan topeng dan dasi. Setelah menyeringai, seseorang membetulkan
dasi. Memaki topeng.
Sampulung, saya menghargai pendapat panjenengan.
Nyatanya menjadi tokoh nasib memang tidak enak, apalagi peran yang harus
dijalani tidak baik di mata orang lain. Saya harus menerima nasib seperti ini
dengan iklas dan tulus untuk menjadi bajingan sebagai jalan hidup. Ini
kenyataan yang tidak bisa dihindarkan, seperti sampeyan tahu, berapa nomer
lotre yang sedang dalam genggaman sampeyan. Sementara orang-orang blingsatan,
menduga-duga, dan menghargai nasibnya sendiri dalam jumlah sekian rupiah.
Hmmmm, kok murah betul nasib itu?
Mas
Jumena, saya pingin tahu, apakah yang sampeyan rasakan saat itu? Apa yang
terjadi dalam diri Mas, ketika melihat disekeliling sampeyan semua menjadi
pecundang, sementara maut telah menjelang? Saya kira jawaban Mas, pasti tidak
berbeda jauh dengan yang saya pikirkan, dan juga sampeyan pikirkan.
Kesetiaan
hanya omong kosong. Itu hanya akal bulus, agar kita menjadi terlena dan tidak
tahu, sebenarnya di sekeliling kita dunia gelap gulita. Dunia para pencoleng
memerankan sebagai manusia suci. Dan manusia suci memerankan sebagai pencoleng.
Dunia sudah jungkir balik. Dan memang dunia diciptakan jungkir balik, agar
manusia mempunyai keputusan yang tegas. Kalau hitam, hitam. Kalau putih ya
putih. Itu saja prinsipnya. Sekarang, yang putih bisa berubah jadi kelabu.
Begitu juga yang hitam, bisa berubah jadi abu-abu. Semua tidak hitam dan tidak
putih. Inilah yang mengacaukan dunia. Tidak jujur!
Maka dalam hal ini saya saya sangat setuju dengan Turah
isteri Korep yang sangat benci dengan kemiskinan. Karena tidak iklasnya miskin,
ia berkali-kali mencari pesugihan dengan jalan berjudi, meski berkali-kali pula
jantungnya dibuat berdebar-debar dan hasilnya kosong mlompong, bahkan harus
rela menjual kehormatannya demi memperjuangkan nasibnya. (3)
Ini pilihan yang jujur. Dari pada setengah setengah, apa
jadinya? Emangnya hidup hanya dijejali mimpi-mimpi. Hidup diawang-awang. Kalau
mau kaya lakukan apa saja. Jangan kemiskinan jadi alasan untuk tidak berbuat
sesuatu.
Sampulung, sampeyan memang harus disikapi lain dan
lain. Tidak hanya dengan kata-kata iklas dan tulus. Terkadang harus melawan
sampai titik darah penghabisan. Tergantung sampeyan datang sebagai apa.
Kalau sampeyan datang dalam bentuk kemiskinan, maka tidak heran kalau
Turah menggadaikan kehormatannya, dan juga Euis berani mencederai kesetiaan Mas
Jumena yang sudah buyuten itu. (4)
Ini sangat realistis. Dari pada menjadi pecundang semacam
Korep suaminya yang takut menjadi kaya, sehingga ia berlaku sok jujur dan sok
relegius. Sok menerima nasib apa adanya. Namun sebenarnya dihatinya yang sok
suci itu tersimpan niat licik, selicik Bandar (5) yang bisa memainkan keluarnya
nomer lotre. Jangan munafik, ketika ketidakberdayaan menjerat. Ini untuk memperteguh
iman. Agar tidak takut bertindak.
Kenapa
Turah tidak takut menjadi lonthe? Karena Korep sendiri tidak takut
mencederai rumah tangganya dengan membabi buta. Kenapa Euis rela bermesraan
dengan Juki, Marjuki maksud saya, di depan Jumena Martawangsa yang otaknya
sudah digergaji ketakutan dan ketidakpercayaan pada orang-orang
disekelilingnya? (6)
Saya
kira terkadang kejujuran bisa menjadi buah simalakama. Mengapa kita harus
mengantarkan nasib pada ketidak pastian. Kalau kita ingin melakukan sesuatu, lakukan.
Kenapa harus ditutup-tutupi?
Mas
Jumena, saya sangat setuju dengan ketegasan sampeyan, mempertanyakan cinta
Eusi. Karena hati manusia selalu berbeda dengan mulutnya. Kadang dihatinya
berkata tidak tetapi dimulutnya berkata ya.
Lihat
saja sekarang? Siapa yang tidak menjadi pecundang bagi dirinya sendiri. Semua
telah menjadi pecundang. Namun mereka hanya lihai menutupi kebusukannya. Siapa
sih yang tidak suka duit? Siapa yang mau hidup melarat? Siapa yang mau anak
turunnya juga menjadi gembel? Siapa yang kuat ujian menjadi manusia miskin,
hidup dikolong-kolong jembatan, memakan makanan dari hasil mengorek-ngorek tong
sampah, penghasilan hanya dari mengemis. Kalau kepepet sedikit mencopet atau
menodong.?
Sekarang
baik buruk itu bukan sesuatu yang penting. Yang terpenting bisa membuat semua
itu meyakinkan. Kalau Anda merasa berbuat buruk maka Anda harus meyakinkan
bahwa yang sedang Anda kerjakan itu baik. Harus yakin! Dengan demikian semua
pasti yakin, meski yang Anda perbuat adalah sesuatu yang buruk.
Tidak
boleh malu. Betul ini. Tidak boleh malu. Kalau malu maka misi Anda untuk
meyakinkan itu tidak berhasil. Sampeyan pasti ingat, bagaimana dengan
tidak malunya Emak, mengatakan pada Abu, anaknya yang korengan dengan sebutan
Pangeran yang rupawan. Dan karena Emak meyakinkan, sang anakpun merasa sebagai
pangeran. Padahal mereka adalah gembel yang diperbudak mimpi. Pangeran edan!
(7) Tetapi, mereka sungguh meyakinkan. Sehingga kemiskinan yang telah
dihadapinya selama hidup tak terasa sebagai penderitaan. Huh…hebat betul.
Nah
begitu juga, ketika Anda mencopet, menipu, mencuri, merampok, atau berbuat
apapun, harus meyakinkan. Sekali lagi harus mayakinkan! Kalau tidak meyakinkan,
maka celakalah hidup Anda.
Saya
kira, saya sendiri tidak mau hidup dalam kubangan kemiskinan. Makanya dengan
sangat meyakinkan, saya harus macak bukan sebagai orang miskin. Saya tidak sudi
diperbudak kemiskinan. Kemiskinan? Yu
Turah, kamu benar, bahwa menjadi miskin itu siksaan. Maka jalan terbaik harus
membebaskan diri dari siksaan kemiskinan itu. Sampeyan sangat berani menclathu
Korep, suami sampeyan yang sok suci itu. Kemiskinan memang tidak bisa
ditolelir. Harus dilawan dengan cara apapun. Kalau sampeyan hanya bisa tombok
lotre, ya tombok saja. Dari pada hanya pasrah, menunggu perubahan! Lemah
betul kelihatannya.
Orang
pasrah itu hanya mengandalkan perasaan. Otaknya sendiri tidak main. Karena
perasaan yang berperan, bisanya hanya menduga-duga, tanpa mau bicara apa yang
menjadi keresahannya. Terus kalau nasib tidak segera berubah, mulutnya nyinyir
menyalahkan orang lain dan sok dirinya suci. Ini tidak adil! Kemiskinan hanya
mencetak ketidakadilan. Orang nyinyir karena lapar. Karena dirinya tidak bisa
berbuat. Karena dirinya telah dibelenggu oleh dirinya sendiri yang sok sudah
bagaimana begitu. Untuk memberantas itu, lawan kemiskinan!
Manusia
tidak boleh miskin dalam berbagai hal. Ini penyakit. Kalau sudah menjadi
penyakit, logikanya harus pergi kedokter. Jadi siapa yang tidak suka kekayaan,
lebih baik sekarang juga tinggalkan gedung ini. Pergilah ke dokter. (Kepada
penonton) Siapa yang suka miskin, angkat tangan! Berarti semuanya sehat.
Tertawa.
Yu
Turah, Kang Masmu itu seperti ketika saya masih idialis dulu. Sok idialis. Sok
suci semuci. Sok tidak butuh kesejahteraan. Sok malu. Padahal dalam hatinya
tidak begitu. Betul? Saya mengalami sendiri. Saya tahu, sebenarnya dalam
hatinya ingin sekali hidup itu enak, tidak kedumpyangan mencari utangan.
Tetapi ketika masih idialis, hmmm…kayaknya hidup itu harus begitu. Biar
sengsara asal hatinya tenteram.
Cuiih!
Bagaimana mau tenteram kalau perutnya melilit-lilit. Hatinya gundah gulana
karena selalu dicerca oleh istrinya dan dirinya sendiri? Apa tidak tambah ngenes,
terus akhirnya mati kaku?
Mbok
yang realistis. Yang jujur pada diri sendiri. Kalau bisanya nyopet, mengapa
tidak nyopet? Kalau bisanya ngutil (mencuri), kenapa tidak ngutil?
Kalau bisanya korupsi, mengapa tidak korupsi? Semua itu tergantung niatnya.
Kenapa harus menggantungkan hidup pada mimpi-mimpi? Kenapa harus menggantungkan
hidup pada ketidakjujuran pada diri sendiri?
Yu
Turah, kamu memang benar-benar hebat. Saya terkesan sekali ketika sampeyan
nuturi Korep yang sekali lagi lelaki yang sok suci itu.
Ya
begitu itu orang yang terbiasa hidup miskin. Mereka takut kaya. Mereka sudah
merasa cukup puas dengan yang diberikan oleh Tuhan, meski sediiiikiiiittt.
“Korep!
Kecaplah sedikit kekayaan niscaya kamu akan ketagihan dan kamu segera akan bisa merasakan bagaimana kekayaan
melecut darah sehingga wajahmu berwarna merah." (8)
Kalian
tahu, Korep masih bisa membantah dengan berkata tidak jujur. “Saya tidak pernah
lapar.” (9)
Huh..!!!
Sungguh munafik! Bagaimana mau merasa kenyang kalau setiap hari memang tidak
pernah makan, karena bisanya hanya mimpi? Itu mah, kebal. Tuh lihat para
petinju itu. Setiap hari dipukuli, semakin hari-semakin tahan pukul.
Kelihatannya betul ia kebal pukul. Ototnya kuat. Tulang wajahnya kuat. Tetapi
yang tidak pernah ketahuan, otaknya jadi lumer, organ tubuhnya remuk. Baru
terasa kalu sudah tua.
Orang
yang kebal miskin, kelihatan sehat-sehat
saja, tetapi hatinya hancur. Dan ini lebih berbahaya, karena mereka tidak punya
hati. Ingat, “Kelaparan adalah burung gagak yang licik dan hitam.” (10)
Saya
kira memang benar. Bahwa nasib tidak akan berpihak pada kebanyakan orang yang
merasa dirinya hidup bersama nasib. Padahal nasib adalah satu kekuatan yang tak
terkendali bahkan oleh dirinya sendiri. Nasib tidak pernah berpihak pada
kebanyakan orang. Nasib tidak mengenal SARA. (11) Karena nasib tidak mengenal
SARA, maka kita harus tegas, kepada siapa kita berpihak!
Mengenakan dasi dan mengganti topeng.
Kenakan
dasi, tampaknya mudah sekali. Ini tidak gampang, kalau dasi sebagai simbul
keberhasilan. Tetapi kalau sebagai tampang saja, seribu dasipun begitu mudahnya
kita mengenakannya.
Saya
sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Jadi saya sangat mudah sekali
mengenakan dasi. Berapa kalipun menginginkannya, saya begitu mudahnya
menggantikan dasi. Ini tergantung dari dan untuk apa saya mengenakan dasi.
Anda
perlu tahu, satu dasi yang saya kenakan, sama dengan satu kemungkinan saya
mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Setiap saya mengenakan dasi saya menjadi
percaya diri dengan apa yang saya kerjakan dan saya tidak pernah menjadi
ragu-ragu. Bahkan orang-orang yang mempercayai saya, juga tidak merasa
ragu-ragu, karena kami memang didukung oleh saling percaya dan tahu sama tahu.
Ini
sudah berlaku dimana-mana. Saya tidak perlu menutup-nutupi dengan dalih apapun.
Saya harus jujur. Karena kejujuran kunci utama kesusksesan. Saya memang jujur.
Ketika mereka memberi isyarat untuk diberi uang pelicin, apa beratnya
memberinya kalau memang membuat urusan menjadi licin. Jangan berbelit-belit
kalau tidak ingin menemui jalan buntu.
Saya
sudah mengalami hal itu, ketika masih kuper dulu. Pasti hal ini tidak perlu
saya ceritakan lagi, karena untuk urusan ini sudah menjadi jamak. Sudah terjadi
dimana-mana dan tidak perlu ditutup-tutupi. Dari presiden, sampai pengurus RT,
kalau tidak memakai pelicin urusan pasti jadi seret.
Kalau tidak pecaya
silahkan coba. Apa? Ya kalau ada itu pengecualian. Kalau saya bandingkan,
seribu banding satu. Satu itu orang yang bernasib malang, karena telah
menyia-nyiakan kesempatan. Lo, betul lo ini? Ini kesempatan. Kapan lagi
berbuat? Wong sebenarnya sistem itu ada, tetapi kan berlaku di bawah tangan
dengan undang-undangnya saling percaya. Kenapa takut melakukan? Meski lima ribu
sepuluh ribu kalau kali sekian orang, berapa jumlahnya? Hitunglah sendiri dan
pikirkan.
Tiba-tiba seekor tikus berlalu sambil menggondol
sesuatu. Melompat ke tempat yang lebih tinggi.
Lihat!
Tikus yang tidak mengerti apa-apa saja
bisa berbuat untuk dirinya. Dia tidak takut dengan yang dilakukannya,
meski ia tahu resikonya. Ia tahu hidup di dunia itu harus survival (kata
guru-guru kita). Kalau tidak, kita bisa menjadi makluk minoritas dan terjajah.
Apakah ini lebih baik? Cobalah beranikan diri. Saya sudah ribuan kali untuk
mencoba hidup idialis. Tetapi ketemunya saya harus realistis. Saya harus
mengaca pada kemampuan dan kesempatan yang saya dapat. Sekali lagi kesempatan!
Ndilalah saya selalu mendapat kesempatan. Tikus itupun ketika
mengusung barang-barang curiannya (dalam tanda petik) pasti menunggu
kesempatan. Ketika ada kesempatan melesatlah dia. Apalagi saya. Sebagai manusia
yang memiliki akal budi, dalam bertindak pasti berbeda dengan para tikus itu.
Saya harus menggunakan dasi, sepatu, rambut klemis, dan make up seperti
ini.
Memakai topeng dengan hidung panjang seperti Pinokio.
Lo,
kenapa tertawa? Apa ada yang lucu? Memang ini kelihatan naif. Ini salah satu
bentuk akal budi untuk mengelabuhi orang agar mereka tidak merasa kecewa. Saya
harus meyakinkan. Dengan topeng keyakinan ini, insya’allah, semua akan berjalan
dengan lancar.
Masih
tertawa? Cara saya ini manjur lo. Kalau lawaran seperti tikus-tikus itu pasti
segera mampus. Kalau saya mau, tikus-tikus itu sudah mampus sejak dulu. Apa sih
susahnya memberantas tikus? Cukup dengan lem tikus kan? Itu sudah beres. Tikus
itu kan tidak bisa membedakan mana makanan dan mana lem. Nah kalau manusia
dengan akal budinya pasti tahu, mana makanan enak dan mana yang sudah basi.
Mana uang yang enak dienthit (dicuri sedikit), mana yang uang panas.
Ya dengan topeng ini, dasi
ini, saya bisa mendapatkan kesempatan. Dan ternyata semua saya lakukan dengan
mudah, ketika saya menggunakan akal budi saya. Kalian pingin tahu rahasianya?
Ternyata semua pegawai dalam perusahaan saya bahkan di kantor-kantor intansi
terkait dengan perusahaan tempat saya berkerja, semua mengenakan akal budinya
dengan memakai dasi dan topeng seperti saya ini.
Begitulah cara kerjanya.
Kelihatannya mudah. Kalau tidak meyakinkan, wah berat. Sulit! Seperti saya
katakan di depan, kalau lawaran, hasilnya cuman sedikit. Cobalah pakai akal
budi, biar lebih canggih dan kelihatan manusiawi.
Seekor
tikus mengerang-erang. Tubuhnya tergencet perangkap tikus.
Itulah akibatnya kalau ‘bermain’
tidak canggih. Tradisional sekali. Ia tidak bisa mengelabuhi. Ia bekerja atas
dasar insting saja. Padahal kalau pakai otak sedikit saja, manusia itu mudah
dikelabuhi. Mudah ditipu. Seperti yang anda saksikan ini sebenarnya cara saya
untuk mengelabuhi orang-orang. Agar orang-orang tidak pernah mempersoalkan
kekayaan saya.
Bayangkan
kalau mereka tahu kekayaan saya yang sebenarnya, pasti hidup saya sudah
berakhir. Tetapi dengan akal budi saya, saya bisa mengelabuhi para petugas yang
akan memeriksa kekayaan saya. Ya, terus terang dengan sedikit uang, agar mereka
bisa sedikit merubah jumlah kekayaan saya. Hasilnya sangat efisien. Dengan
mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu, hasilnya bisa Anda lihat. Harta
benda saya selamat, dan sayapun masih dengan lancar menumpuk kekayaan demi
kekayaan.
Lemari
yang dibaringkan sedemikian rupa, sehingga seseorang bisa berdiri di atasnya.
Saya
sudah katakan tadi, gunakan akal budi. Dan inilah salahsatu bentuk akal budi
saya.
Tirai di belakang almari membuka
sedikit.
Sudah
bertahun-tahun saya memikirkan bagaimana menyelamatkan kekayaan saya dan keluarga saya. Barangkali ini contoh
yang tidak gampang dilakukan. Terus terang, saya harus rela harta benda yang
saya miliki, saya biarkan menumpuk seperti ini.
Tirai
membuka agak lebar, sehingga kelihatan sebagian interornya yang terdiri dari
kardus-kardus bekas pembungkus berbagai barang.
Begitu juga, barang-barang itu tidak pernah saya sentuh
sedikitpun, demi keawetan harta benda itu. Bahkan, anak dan istri saya tidak
pernah boleh menyentuhnya. Apalagi menggunakannya. Mereka tahu, bagaimana
sulitnya mendapatkan harta benda itu. Oleh sebab itu, demi menjaga semua harta
benda saya itu, saya harus mengelabuhi berbagai pihak. Termasuk keluarga saya.
Berapa tikus itu pun tertipu. Inilah
hasil kerja saya yang sebenarnya.
Tirai membuka
lebar. Tampak interior mewah dan sebuah foto (gambar) keluarga.
Sampeyan tidak perlu kaget. Yang dipojok sana (Menunjuk
kardus bekas perlengkapan dapur. Kemudian mengenakan dasi dan mengganti topeng),
semuanya saya peroleh pada lima tahun awal ketika saya mulai bekerja. Kunci
untuk mendapatkan itu tidak mudah. Dengan
telaten, saya mengumpulkan serupiah demi serupiah. Saya harus sedikit pandai
bermain sandiwara. Melaporkan hal-hal yang tidak sebenarnya. Sering saya
melebih-lebihkan laporan, sehingga pimpinan perusahaan saya senang. Pernah juga
saya katakan, perusahaan kita dalam krisis, sehingga perusahaan kalangkabut dan
melakukan rasionalisasi. Pada saat itu, saya bisa curi kesempatan. Orang-orang
yang sok suci saya sikat. Tentu, sebelumnya saya sudah menjilati pantat
direktur saya, agar dia percaya dengan apa yang saya omongkan. Berikutnya,
orang yang sok suci itu tersingkir, saya memasukan orang-orang yang bisa diajak
kerja sama, biar pada lima tahun ke dua, saya bisa bekerja dengan baik.
Yang
disebelah sana (Menunjuk kardus bekas pembungkus perangkat elekronik dan
gambar sofa. Kemudian mengenakan dasi dan mengganti topeng), adalah kerja
saya pada lima tahun kedua. Tentu, dengan sangat mudah sekali saya bisa
mengatur apa yang saya maui. Terus terang kami berlomba-lomba, manipulasi,
korupsi, dan kolusi. Bagi kami, kapan lagi tidak melakukan KKN, kalau tidak
saat ada kesempatan. Kami tidak mau ketinggalan jaman. Rasanya malu tidak ikut
korupsi. Bahkan kalau tidak ikut-ikutan korupsi, dikatakan manusia langka.
Mulai Satpam, sampai pegawai bawahan saya, semua pandai berbohong. Pada lima
tahun kedua itu, saya menyebarkan paham, “Kalau ingin kaya, jangan bekerja
dengan hati nurani. Bekerjalah dengan akal budimu. Kalau engkau bekerja
berdasar hati nurani, maka kamu akan pulang dengan tangan hampa, sehampa hatimu
yang sok bagaimana begitu.” Itulah racun yang selalu saya berikan pada anak
buah saya. Hasilnya, meski mereka sedikit malu-malu, dia mau bekerja dengan
‘akalnya’.
Setelah
mereka sadar akan kedudukannya, yang Satpam sering tidur diwaktu malam.
Meskipun ia sering tahu ada kepala gudang mencuri sesuatu, ia pura-pura tidak
tahu, karena besok paginya ia akan mendapat salam tempel dari kepala gudang.
Yang sedikit susah itu, tukang sapu. Ia hanya bisa mengkorupsi serbet.
Sementara para pekerja wanita, kalau tidak ada pekerjaan atau ada pekerjaan,
kesukaannya nonton sinetron di TV yang sengaja saya letakan disitu, sambil
menunggu jam kantor berakhir. Sementara saya sendiri, sibuk merubah angka-angka
laporan, biar kelihatan realistis, kemudian pada akhir tahun saya melaporkan keuangan dengan wajah seperti
ini!
Memakai
topeng sedih. Hidungnya bertambah panjang.
Saya laporkan, pada perusahaan bahwa perusahaan kita
sedang pailit. Oleh sebab itu deviden tidak bisa dibagikan pada para pemegang
saham, apalagi THR. Meski bisa, tidak sebanyak tahun sebelumnya. Tentu semua
itu sudah dimaklumi oleh semua pegawai. Mereka tidak bisa memaksa, karena
mereka telah mengkorupnya terlebih dahulu. Tentu, drama ini telah diatur
sebelumnya. Paling tidak saya sudah menyusun laporan itu terdiri dari beberapa
bagian. Pertama untuk auditur dan petugas pajak, kedua untuk pimpinan, ketiga
untuk para pegawai lain. Tentu semua itu atas setahu pimpinan. Dia sendiri,
tidak ingin perusahaannya kena pajak. Hanya itu.
Nah, yang sebelah sana (Menunjuk gambar rumah mewah
dan mobil mewah kemudian mengenakan dasi lagi) adalah kekayaan saya pada
lima tahun ke tiga. Pada saat itu, saya sudah menjabat jadi direktur eksekutif.
Jabatan yang strategis. Saya bisa melakukan apa saja. Bahkan semakin bisa menumpuk
kekayaan dengan mudah, karena sebagian kerja sama-kerja sama yang ditawarkan ke
perusahaan saya, bisa saya eksekusi sendiri, dan hasilnya untuk saya sendiri.
Dalam tempo kurang dari dua tahun, saya bisa mendirikan perusahaan sendiri.
Seperti yang Anda tahu, saya pun menjadi kaya raya. Lihatlah, betapa semua ini
merupakan hasil akal budi saya yang cemerlang. Dalam tempo lima belas tahun,
mulai dari pegawai rendahan sampai saya punya perusahaan sendiri adalah kerja
yang gemilang.
Terdia. Beberapa
tikus melintas. Gerakannya sangat lambat.
Namun kegemilangan itu hanya berlalu sekejab saja. Lihat
poto yang di sebelah sana itu! Kekayaan yang berharga itu, tak bisa saya
selamatkan. Ketika karir saya sedikit demi sedikit naik, saya bekerja siang
malam, tanpa mempedulikan keluarga saya. Saya seperti diuber-uber hantu
kemiskinan. Sepanjang hari saya harus bekerja keras, memeras akal, agar
kehidupan kami tidak terpuruk pada kemelaratan.
Namun, nyatanya, apa yang saya lakukan bertahun-tahun,
justru membuat salah paham diantara keluarga saya. Istri saya bilang, saya
adalah orang gila. Orang yang tidak punya hati nurani. Sementara anak-anak saya
menjadi remaja yang binal. Keluyuran setiap malam dan pulang dengan aroma
alkohol di mulutnya sembari mendamprat saya habis-habisan, kemudian ndlosor begitu
saja di sofa.
Pada saat itu saya pingin menampar anak saya. Tetapi
dasar brandal, ia malah nerocos, memaki saya, telah sdiperbudak oleh setan.
Bahkan membiarkan istrinya menjadi ‘lonthe’ yang keluar setiap malam dengan berbagai
lelaki yang bisa memberinya rasa puas di ranjang.
Mas Korep, sebenarnya kita hanya putus asa, karena
menganggap hidup sederhana lebih kaya dari hidup kaya (harta benda). Memang,
semua orang pasti punya angan-angan mewah, memiliki rumah mewah, pakaian mewah,
pangan mewah, kendaraan, kesempatan rekreasi dan segala aneka kesenangan badan,
seperti umumnya orang. (12)
Saya kira semua itu wajar. Saya telah melakoninya dengan
terang-terangan. Hidup di suatu negeri yang korup, hidup di tengah masyarakat
yang anti akal waras, lebih baik bersikap masa bodoh atau menjadi pemberontak
sama sekali. (13)
Saya hidup bagai batu yang punya mata. Memang benar, saya
telah membuat nurani saya menjadi batu. Selama hidup, saya mengabdi pada nafsu
yang menyala-nyala. Impian tentang kemewahan tidak pernah luntur. Dan ketika
harapan itu terwujud, terus terang kami tergagap menerimanya. Ternyata sampeyan
benar, Korep. Hidup kaya itu menakutkan. (14)
Mas Korep. Saya dulu juga orang yang lugu. Saya takut
miskin, seperti Yu Turah. Saya takut tidak bisa membahagiakan istri dan
anak-anak. Makanya saya berusaha banting tulang dengan cara apapun, asalkan
saya dan keluarga saya tidak kelaparan. Saya menghalalkan korupsi, kolusi, dan
nepotisme, karena saya takut pada suatu hari nanti kehidupan saya jadi
bangkrut. Anak-anak saya yang lahir dari rahim istri saya menjadi gelandangan,
dan pada akhirnya mati di bawah kolong jembatan.
Oh, ternyata menjadi kaya menakutkan dan menjadi miskin
juga menakutkan. Saya selalu dihantui oleh kedua-duanya. Saya pingin kaya,
karena saya tidak ingin jatuh miskin yang teramat sangat. Ketika anak istri
saya pergi, kekayaan itu tiba-tiba raib. Seluruh harta benda yang
bertahun-tahun saya tumpuk menjadi tidak berguna.
Melepas topeng dan
dasi. Beberapa tikus melintas dengan mengusung berbagai benda.
Ambilah! Semua tidak berguna. Ambilah, saya tidak
membutuhkan lagi. Kalau perlu ambilah jantung hatiku. Semua sudah tidak
berguna.
Seekor tikus
nyrondrol, hendak mengambil harta yang di balik tirai.
Stop! Stoooop! Kalian jangan main-main dengan harta benda
saya. Jangankan kamu. Istri saya saja tidak pernah menyentuhnya. Pergilah! (Mengusir
dengan melempar sandal) Huh, dikira hidup itu gratisan. Dasar otak tikus.
Silahkan ambil barang-barang saya, tetapi harus ada jaminannya. Apakah
kalian bisa menjamin kehidupan saya yang
sudah hampir berakhir ini, bisa selamat. Harta benda itu tidak ada artinya bagi
keselamatan saya sendiri. Saya pingin mati dengan tenang. Saya pingin mengakiri
hidup seperti ketika saya lahir dulu. Apakah ada yang bisa menjamin, bahwa saya
bisa selamat tanpa harta benda di sekitar saya? Kalau ada, silahkan ambil
seluruh kekayaan saya ini. Bagi saya, keutuhan keluarga saya lebih
membahagiakan saya, meski semuanya sudah terlambat.
Sampulung, apa sampeyan tidak dengar suara saya?
Mas Korep, Mas Jumena Martawangsa, Yu Turah, Make, apa sampeyan semua
sudah bahagia? Saya sekarang sendirian,
menjaga berhala-berhala yang saya sembah bertahun-tahun. Benda-benda itu pada
mulanya bisa menyelamatkan dari ketakutan-ketakutan yang menyelimuti benak
saya. Nyatanya berhala-berhala itu malah menikam saya dari belakang. Mereka
hanya diam seribu bahasa. Mereka sama sekali tidak berharga, ketika tuannya
butuh perlindungan.
Ternyata kerja keras saya hanya untuk mengubur saya
dengan cara yang sangat menyakitkan. Benda-benda yang saya kumpulkan itu, malah
menjadi hantu-hantu yang setiap saat mengancam jiwa saya. Setiap detik, ia
selalu membuat sikap saya berubah. Saya tidak bisa tidur. Benda-benda itu, selalu
menghantarkan saya pada mimpi-mimpi buruk.
Tikus-tikus
bergerak, hendak mencuri benda-benda.
Hai jangan sentuh barang-barang itu!
Tikus-tikus diam.
Sepanjang malam, saya menunggui barang-barang yang saya
peroleh sejak saya hanya mempunyai lemari butut, dan kursi-kursi tua
peninggalan mertua saya. Sementara orang tua saya hanya meningalkan, rasa takut
akan kelaparan.
Tikus-tikus hendak
bergerak.
Sudah aku bilang, kalau kalian menyentuh benda-benda itu,
maka hidupmu akan berakhir. Kalau mau hidup, cari diluar sana. Basih banyak
yang bisa kamu miliki!
Saya sudah sering mengatakan pada anak-anak dan istri
saya. Semua harta benda yang kita miliki ini bukan milik kita. Tetapi semua ini
untuk masa depan cucu dan cicit-cicit kita. Harta benda itu pondasi sejarah
yang kukuh, agar keturunan kita langgeng sepanjang masa.
Mereka tampak masa bodoh dengan yang saya katakan. Meski
mulut saya nerocos. Anak-anak saya, pulang menjelang pagi dengan mata merah,
rambut acak-acakan, jalannya sempoyongan, dan pasti mobilnya terluka, untuk
kebut-kebutan dangan anak-anak brandal yang sok kaya itu.
Sementara istri saya selalu memilih tidur di vila dan
membiarkan saya mendekap guling sendiri, sembari membayangkan istri saya yang
dipeluk lelaki lain yang sengaja dibawanya dari plasa-plasa atau hasil arisan
dengan perempuan-perempuan malang yang merasa dibuang suaminya karena sibuk
mengurusi harta bendanya.
Tikus-tikus hampir
menyentuh kardus-kardus bekas.
Kamu tahu, harta benda itu saya dapatkan dengan
mengorbankan segala-galanya. Untuk mendapatkan itu, kamu harus menghadapi saya,
meski saya menganggapnya harta itu tidak ternilai lagi selain rasa bahagia.
Mengambil benda apa
saja dan siap berperang melawan tikus.
Kini saatnya kita beradu nasib kawan. Siapa yang menang
dialah penguasa kerajaan ini.
Memburu tikus
sambil memukul sekenanya.
Mampuslah engkau! Mampuslah engkau! Mampuslah engkau!
Berhenti. Berlari
lagi dan memukul lagi.
Mampuslah engkau! Enyahlah engkau!
Terus berlari
sambil memukul sembarangan hingga harta bendanya berantakan.
Habis. Ludes. Saya kira ini lebih adil.
Tiba-tiba sebuah
benda atau apa saja jatuh.
Hussssaaa….dimana…kamu..pengecut! Habis. Ludes.
Mengemasi
kardus-kardus dan memasukanke dalam lemari. Seseorang juga masuk kedalamnya.
Saya kira ini lebih adil. Inilah cita-cita saya. Lahir
tanpa membawa apa-apa, pulangpun tanpa membawa apa-apa bahkan tanpa
siapa-siapa, meskipun saya tetap mencintai mereka.
Sepi.
Kang Korep, saya titip nomer togelnya. (Hendak
berbaring dalam lemari dan tumpukan kardus-kardus) Kayaknya saya dapat
pulung hari ini. Tolong belikan nomer berapa saja. Tampaknya semua nomer akan
jadi nomer keberuntungan saya.
Seekor tikus
melintas.
Hah itu dia. Nomer tikus. Berapa nomer tikus? Ya, lima
belas! Belikan nomer tikus saja! Apa? Uang? Nanti kalau tembus saya ganti.
Pokoknya belikan nomer tikus. Saya pusing sekali dengan ulah mereka. Berapapun sampeyan
punya uang. Kalau tembus, uang itu akan saya buat mbakar tikus kurang ajar
itu. Mengganggu orang tidur saja sepanjang hari.
Tikus melesat.
Bajingan! Apa lagi yang kamu ambil? Oya, Kang Korep,
kalau nanti tembus, sampeyan pingin apa? Apa? Tidak punya keinginan? Bodoh
sekali. Apa sampeyan tidak pingin bir, paloma, toak, atau nglonthe di
stasiun? Siapa tahu sampeyan ketemu Turah dan saya ketemu istri saya. Tidak
semuanya? Terus sampeyan pingin apa? Mati? Sampeyan pingin mati?
Diam. Sepi.
Seseorang melepas seluruh pakaiannya.
Mas, keinginan sampeyan itu sudah lama saya idamkan. Saya
sebenarnya sudah mati, ketika rasa kemaluan saya hilang. Sebenarnya saya bukan
manusia lagi. Sekarang, saya hanya sebagai mayat hidup yang bergentayangan
menunggu malaikat maut menjemput saya dan menyeretnya ke neraka, tanpa
pengadilan di depan Tuhan. Namun sampai sekarang, ketika satu demi satu
keluarga meninggalkan saya sendiri, malaikat itu tak kunjung menjemput saya.
Sampai kapanpun, Beliau akan saya tunggu.
Mas Korep, sepulang beli togel. Kalau masih punya uang
tolong belikan peti mati. Kalau togel itu mbleset, kuburlah peti mati
itu, anggaplah saya sudah mati. Buatkan upacara kecil dan berita duka cita.
Tancapkan nisan di atasnya, dan tulis :
Telah meninggal dunia, nama saya, lahir tanggal sekian, bulan sekian, tahun
sekian, mati tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian. Ingat gunakan kata
mati, jangan wafat.
Hendak berbaring di
tengah tumpukan kardus.
Ya! Siapa? Apa? Nomer saya tembus? Dapat jutaan rupiah?
Mas Korep, kalau begitu tolong beritahu malaikat, tunda dulu kematian saya.
Kalau perlu undang mereka, kita berpesta bersama-sama! Kita mabuk-mabukan! Kita
nglonthe! Kita kawin lagi, Mas. Merdeka!
Seseorang itu
segera memakai celana, dasi, dan topeng, kemudian berjoget sekenanya.
Tikus-tikus bergembira ria. Mereka berjoget. Kemenangan kembali merebak. Rumah
yang muram itu menyala-nyala merayakan kemenangan. Dua ekor tikus membentangkan
poster bertuliskan: “Kalau ingin berantas korupsi, do’akan tokoh
kita ini segera mati!”
Surabaya, 2004
Keterangan :
1.
Dalam naskah
drama, Sumur Tanpa Dasar, karya Arifin C Noor, pada babak awal tokoh
Jumena Martawangsa mengucapkan kalimat ini, “Kalau saya bunuh diri,
sandiwara ini tidak akan pernah ada.” Saya sangat terkesan dengan kalimat
ini. Menurut saya, kalimat ini mencerminkan, bahwa sebuah peristiwa pasti
melibatkan ‘tokoh’. Dari tokoh inilah
peristiwa apapun bisa diselesaikan.
2.
Dalam naskah
drama Tengul, karya Arifin C Noor, pada babak awal tokoh Sampulung
mengucapkan kalimat ini, “Menjadi tokoh nasib sama sekali tidak ada enaknya
karena selalu dicemooh oleh hati, namun berlangsungnya lakon tak dapat
dihalangi. Silahkan menyaksikan dan mencemooh diri saya, sudah tentu setelah
saudara-saudara memuja dan menjilat-jilatnya.” Barangkali para koruptor
kita berpikiran demikian.
3.
Pada adegan
penarikan lotre dalam naskah Tengul, karya Arifin C Noor, nomer
yang ditomboki (dibeli) Turah istri
Korep ternyata meleset lagi. Padahal ia telah menjual seluruh harta bendanya.
Karena harta satu-satunya tinggal kehormatan, maka Turah menjualnya seperti
menjual jajanan : “Kehormatan! Kehormatan! Kehormatan!” Oleh karena krisis ekonomi telah melanda
Indonesa dengan begitu hebat dan hutang luar negeri terus melambung, maka jalan
satu-satunya (secara tidak sadar) bangsa yang besar ini telah menempuh jalan,
seperti yang dilakukan Turah.
4.
Euis dan Marjuki,
dicurigai Jumena Martawangsa, telah menjalin hubungan afair. Kecurigaan ini
memang didasari ketakutan-ketakuatan Jumena sendiri. Tetapi sebenarnya dibalik
itu, Euis dan Marjuki bisa dibilang menjalin asmara, meski ia selalu berdusta
di depan Jumena. Demi sesuatu yang diyakini, manusia (menurut saya) pasti
berdusta, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.
5.
Dalam setiap
perjudian, Bandar (Salah satu tokoh di Tengul, karya Arifin C Noor)
tidak pernah mengenal filosofi jujur. Ditangannyalah pendulum nasib dikuasai.
Oleh sebab itu ia bebas memainkan, selicik apapun. Dan memang bandar judi
jarang kalah karena harta benda mereka jelas lebih banyak dari penombok.
6.
Kecurigaan Jumena
terhadap Euis (istri mudanya) dengan Juki (adik angkat Jumena) memang
berdasar ketidak percayaan akan cinta
Euis. Pada babak awal Jumena bertanya
pada Euis : “Apa yang diharapkan perempuan sebenarnya?” Euis menjawab, “Seorang
suami yang mencintainya.” Dan dengan
tangkas Jumena menjawab pula, “Saya sangsi…”
7.
Dalam naskah Kapai-Kapai,
karya Arifin C Noor, Emak menyamakan tokoh Abu (anak Emak) yang pegawai
rendahan itu, sebagai Pangeran yang rupawan dan hidup bahagia. Kemiskinan
memang selalu menggiring orang pada mimpi-mimpi. Karena mimpi-mimpi inilah
terkadang manusia berbuat nekat. Termasuk korupsi. Manusia berkorupsi bisa jadi
akibat dari rasa takut akan kemiskinan dan keinginan realisasi mimpi-mimpinya
akan kemewahan.
8.
Kerna jengah
menghadapi Korep yang merasa sudah bahagia meski hidup sederhana (miskin),
Turah (istri Korep) merasa perlu meyakinkan, bahwa kekayaan akan merubah
segalanya.
9.
Namun sayang,
ajakan istrinya itu, tak pernah membuat surut Korep untuk tetap memilih hidup
sederhana dan Korep menyatakan dalam kemiskinannya itu ia merasa tidak pernah
lapar.
10. Baca sajak WS. Rendra, Kelaparan. Saya
menulisnya diluar kepala.
11. Perihal nasib, Bandar (salah satu tokoh dalam naskah Tengul,
karya Arifin C Noor) percaya, bahwa nasib tidak pernah berpihak pada kebanyakan
orang. Tetapi pada segelintir orang, karena nasib adalah kekuatan yang tak
terkendalikan dia tak pernah memihak atas golongan, suku, ras, bahkan agama.
Nasib tidak ada hubungannya dengan kesalehan seseorang. Maka Bandar berujar, “Inilah
kekeliruan terbesar. Nasib tidak pernah tahu, apa itu agama.”
12. Kesederhanaan Korep sebenarnya didasari oleh rasa
putus asa. Karena pada dasarnya secara manusiawi manusia punya angan-angan
tentang kekayaan harta benda dan hidup tenang.
13, 14. Periksa dialog Korep dengan tokoh Si Tuli.
Biodata
Rakhmat Giryadi, lahir di Blitar, 10 April 1969. Lulusan Sarjana
Pendidikan Seni Rupa IKIP Surabaya 1994 ini, selain bergiat di teater ia juga
menulis cerpen, esai, dan puisi. Karyanya selain dibacakan diberbagai
kesempatan, juga dipublikasikan di media massa seperti, Horison, Surabaya
Post, Kompas (Jawa Timur), Jawa Pos, Surya, Radar Surabaya, Suara Merdeka,
Suara Karya, Suara Indonesia, Sinar Harapan, Aksara, Majalah Budaya Gong,
Panjebar Semangat. Sekarang bekerja sebagai wartawan Jatim Mandiri.
Organesasi :
- Persatuan Wartawan Indonesia-Jawa Timur
- Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur (2008-2013)
Buku
Kumpulan Cerpen:
- Mimpi Jakarta (2006)
Puisinya
termuat dalam :
1. Luka Waktu (1998)
2. Duka
Atjeh, Duka Kita Bersama (2004)
3. Malam Sastra Surabaya (Malsasa 2005)
4. Malam Sastra Surabaya (Malsasa 2007)
Buku
yang pernah dieditori:
- Pelayaran Bunga
(Antologi Sastra Festival Cak Durasim 2007)
Scenario
yang pernah ditulis :
- Rumahku Rumahmu
(2006)
Nasakah drama yang pernah disutradarai
bersama Teater Institut Unesa :
- Orang-orang Bawah Tanah (R Giryadi 1994)
- Monolog
Provokator (R Giryadi 1996)
- Monolog Aeng (Putu Wijaya 1996-2001)
- Jalan Pencuri (Tengsoe Tjahjono 1997)
- Pohon dalam
Piring Tanah (Tengsoe Tjahjono
1999)
- Orang Asing (Ruper Brooke 1994-1996)
- Ode Buat Ibu (Urip Joko Lelono 2000)
- Setan dalam Bahaya (El Hakim 1998-2003)
- Rashomon (Rheunosuke Akutagawa 2000-2001)
- Monolog
Peperangan ( R Giryadi 2000)
- Monolog Biografi Kursi Tua (R Giryadi 2001)
- Monolog Teriakan-Teriakan Sunyi (R Giryadi 2004)
- Monolog Retorika Lelaki Senja (R Giryadi 2005)
- Larung Pawon (Kolaborasi 2007)
- Nyai Ontosoroh (R Giryadi 2007)
- Monumen-Monumen ( Jujuk Prabowo/R Giryadi
2007)
Naskah drama yang pernah ditulis
:
1.
Orang-orang Bawah
Tanah (1994)
2.
Orde Mimpi (1994)
3.
Monumen (1997)
4.
Serpihan Kaca
Pecah (1997)
5.
Istana Maya
(1998)
6.
Terompet
Senjakala (2003)
7.
Testimoni (2004)
8.
Hikayat
Perlawanan Sanikem : Nyai Ontosoroh (2006)
9.
Sebelum Dewa Dewi
Tidur (2008)
Naskah monolog yang pernah
ditulis :
1.
Monolog
Peperangan (2000)
2.
Biografi Kursi
Tua (2001)
3.
Bingkai Kanvas
Kosong (2003)
4.
Monolog
Teriakan-Teriakan Sunyi (2004)
5.
Retorika Lelaki
Senja (2005)
Alamat
:
R
Giryadi
Jl.
Merpati I/7 Wismasari, Juanda
Sidoarjo
e-mail
: zahiria@yahoo.com
tlp
rumah : (031) 8667146
hp:081330657845